Matari Welcome

Selamat Datang di Matari sehati Yogyakarta

Lepas dari Cengkeraman Seks Rutin

14.57 Posted In , , Edit This 0 Comments »

JADWAL berhubungan seks erat kaitannya dengan sensasi kenikmatan bercinta. Namun, apa jadinya jika seks berlangsung setiap hari? Tentu saja rasa bosan akan menyelimuti hati Anda dan pasangan. Menyiasati masalah yang satu ini, Anda dan pasangan tak perlu cemas dan bimbang memikirkan solusi yang tepat. Seks setiap hari bisa disiasati dengan tip berikut ini, seperti dilansir Askmen.

Lancarkan "serangan" secara spontan

Serangan secara spontan merupakan kunci utama keberhasilan dalam berhubungan seks di ranjang. Untuk itulah, Anda jangan menunggu pasangan meminta stimulus seks terlebih dahulu, melainkan lancarkan aksi bercinta secara cepat dan mengenai titik sensitifnya. Pasangan tak hanya merasakan kepuasan, tetapi juga terlena dengan romantisme yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tak mesti di ranjang, tetapi aksi spontan bisa Anda lakukan saat pasangan menonton acara televisi atau memasak di dapur. Caranya, awalilah memeluk tubuh pasangan dari arah belakang kemudian lanjutkan dengan melancarkan aksi panas yang belum pernah Anda praktikkan. Niscaya, sensasi kejutan kali ini membuat Anda dan pasangan terlepas dari kebosanan akibat bercinta setiap hari.

Petualangan cinta di lokasi baru

Aksi bercinta di lokasi berbeda bisa menorehkan petualangan cinta istimewa. Alhasil, rasa bosan yang mendera Anda dan pasangan pun akhirnya menyusut. Kini, Anda pun harus memutar otak memikirkan lokasi strategis berhubungan seks. Di bawah air terjun, misalnya. Sensasi gemericik air terjun yang membasahi tubuh, mampu menyulutkan gairah seks Anda dan pasangan yang tengah padam.

Mainkan peran sebagai guru dan murid

Tak hanya "serangan" seks yang dapat memberikan kenikmatan dalam kamus bercinta, namun "pukulan nakal" juga menjadi pertanda awal bangkitnya gairah seks pasangan. Sebagai salah satu strategi pendukung, Anda bisa berlakon layaknya guru dan murid. Posisikan diri Anda sebagai guru yang sedang menghukum sang murid. Lancarkan aksi "pukulan nakal" di bagian bokongnya, kemudian susul dengan melontarkan kata-kata "liar". Konon, aksi seperti ini paling manjur untuk memacu gairah seks pasangan yang bosan bercinta.

Sumber: okezone.com - 6/15/2009 11:47 AM Local Time

10 Makanan Pembangkit Gairah Seks

14.45 Posted In , , Edit This 0 Comments »
okezone.com - 6/16/2009 12:18 PM Local Time

AGAR hubungan seks semakin luar biasa, ada baiknya Anda dan pasangan mengonsumsi makanan yang dapat membangkitkan gairah bercinta. Makanan apa sajakah itu? Seperti dikutip dari Loving You, ada 10 jenis makanan yang menunjang aktivitas seks. Di antaranya:

Anggur

Anggur bersifat hipoglikemia yang mampu mengatasi kelelahan tubuh. Dimakan segar atau dibuat minuman, diyakini dapat memiliki efek sama. Apalagi bila diberikan ke mulut pasangan dengan memainkan jari jemari yang bergerak erotis. Dijamin memberikan sensasi menggoda yang melambungkan gairah si dia.

Alpukat

Alpukat mengandung folic acid yang membantu proses metabolisme protein, yang berarti memberi lebih banyak tenaga. Alpukat juga mengandung vitamin B6 (nutrisi yang meningkatkan produksi hormon pria) dan potasium (yang membantu mengatur kelenjar tiroid wanita).

Pisang

Pisang mengandung enzim bromelain yang dapat membangkitkan libido kaum pria. Selain itu, pisang mengandung potasium dan vitamin B yang dapat meningkatkan tenaga. Untuk Anda yang ingin menyantap buah jenis ini dengan sensasi yang menggoda, Anda dapat mengupasnya terlebih dahulu. Lalu meminta pasangan perlahan-lahan menyantap dan membaginya dengan Anda melalui mulutnya.

Sampanye

Sampanye tak sekadar minuman, namun juga merupakan gabungan seks dan romansa. Sampanye merupakan teman terbaik untuk menghabiskan momen spesial, karenanya ajang di ranjang tak akan lengkap tanpa minuman yang satu ini. Untuk Anda yang ingin memberikan kejutan pada pasangan, tak ada salahnya menuangkan sampanye ke sekujur tubuh, lalu lengkapi dengan buah-buahan, dan minta si dia menjilati tubuh Anda. Langkah ini membuat pasangan tak sabar segera bergumul dengan Anda.

Sushi

"Sushi Telanjang" merupakan pengalaman menyantap makanan yang diperkenalkan bangsa Jepang. Di Jepang, cara ini disebut nyotaimori, yang artinya "pertunjukan tubuh perempuan". Salah satu cara tersebut pernah dilakukan Samantha Jones (Kim Catrall) dalam film "Sex and The City". Sam yang ingin merayu pasangannya dengan melumuri seluruh tubuh dengan sushi, ingin menikmati gairah seks yang luar biasa. Saat itu, ia memenuhi sekujur tubuh dengan sushi dan berharap dijilat oleh pasangannya. Nah, untuk Anda yang ingin melakukannya, tak ada salahnya mencontek cara orang Jepang menikmati seks indah dengan nyotaimori. Dijamin memberikan pengalaman erotis yang tak terlupa!

Kerang

Kerang mengandung zat seng tinggi yang dapat meningkatkan produksi sperma dan testosteron. Kerang juga mengandung dopamine, hormon yang terkenal dapat meningkatkan libido. Untuk Anda yang ingin menikmati jenis makanan ini dengan pasangan, dapat memulainya dengan membersihkan kerang, buka dan campur dengan es batu. Anda juga dapat mengaduknya dengan jeruk lemon yang segar.

Stroberi

Stroberi merupakan jenis buah yang tidak boleh Anda remehkan khasiatnya. Di setiap tahun, stroberi selalu identik dengan sesuatu yang berbau romantis. Karenanya, tak ada salahnya Anda memasukkan buah yang satu ini dalam daftar makanan pembangkit libido. Mencelupkan stoberi ke cokelat, cream, atau anggur, merupakan langkah penting yang memberikan efek sensual menggoda.

Cokelat

Cokelat tak hanya enak dimakan, panganan jenis ini juga mengandung phenyl ethylamine, unsur kimia yang dapat menimbulkan perasaan "dicintai". Cokelat hitam mengandung antioksidan yang sangat baik untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Lantaran cokelat menjadi salah satu jenis makanan sensual, maka tak ada salahnya memasukkan jenis makanan ini sebagai ajang kreativitas Anda di ranjang.

Pasta

Tak ada salahnya untuk Anda memasukkan menu Italia yang kaya dengan beragam jenis pasta dalam ajang pergumulan kali ini. Sebab, pasta selalu memiliki tempat yang spesial dalam ajang romantis. Cukup menyantap spaghetti yang dilakukan dengan saling membagi dari mulut, Anda dan pasangan dapat menikmati pertempuran yang romantis.

Menguak Komunitas LGBT

19.52 Posted In Edit This 3 Comments »
Sumber: Okezone.com

FENOMENA keberadaanlesbian, gay, biseksual, transgender, dan transeksual (LGBT) sebenarnya sudah lama ada. Namun tak banyak yang bisa mengungkapkan secara pasti lantaran mereka enggan menunjukkan keberadaan secara terang-terangan. Komunitas mereka biasanya tertutup dan enggan menonjolkan diri di masyarakat. Itu tak mengherankan karena sampai sekarang keberadaan mereka masih menimbulkan sinisme di tengah-tengah masyarakat.

Kendati demikian, kini para pelaku LGBT sudah mulai mencari jenisnya dan membentuk komunitas tertentu yang mulai memperlihatkan jati diri. Mereka sudah terang-terangan berkumpul di suatu tempat. 

"Untuk waria cenderung mudah ditemui dalam profesi rias dan kecantikan, hiburan, dan profesi-profesi sektor informal yang memungkinkan mereka untuk bekerja tanpa terlampau dilecehkan dan didiskriminasi. Wanita tomboi yang visibilitasnya agak kurang dibandingkan dengan waria dapat ditemukan sebagai laki-laki dengan berpakaian laki-laki, atau menjadi pengemudi angkutan umum," kata Dede Oetama, sosiolog, aktivis AIDS dan gay Indonesia saat berbicara dalam seminar nasional Seksualitas yang Ditabukan: Tantangan Keberagamaan di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2008).

Gay dan lesbian, sambung pendiri Gaya Nusantara (organisasi kaum LGBT Indonesia), tidak selalu tampak beda. Di banyak tempat di Indonesia gay berkumpul di tempat dugem yang beberapa mengadakan malam khusus gay, atau berkumpul di mal, taman, taman hiburan, terminal angkutan umum, pelabuhan, tempat fitnes, atau kolam renang. Akses internet juga dapat mempermudah bertemunya para gay.  Lebih lanjut Dede mengungkapkan, konsep 'menyimpang' atau 'penyimpangan' yang sering kali dijadikan alasan untuk menolak homoseksualitas dan transgenderisme, sebaiknya dihilangkan. Setiap manusia harus melihat manusia lainnya berdasarkan pendekatan hak asasi manusia (HAM).

"Semua orang apakah itu homo, atau hetero, laki-laki perempuan adalah sama dan setara haknya. Bahwa masih ada yang tidak menyadari hal ini, mungkin dapat kita maklumi, tetapi secepatnya harus diubah dengan kesadaran cerdas dan menjunjung tinggi kesetaraan berdasarkan orientasi seksual maupun identitas gender," pungkasnya. (nsa)

Fears over Sri Lanka war children

09.52 Posted In , , Edit This 0 Comments »
by. BBC_South Asia

A growing number of children have been killed or injured in Sri Lankan fighting over the last 10 days, the UN children's agency (Unicef) says.

It has called on the government and Tamil Tiger rebels to give "absolute priority" to the safety of children and the wider civilian population. The Tamil Tigers say 250,000 civilians in the conflict zone want to stay in rebel-held areas for protection. However the government has appealed to the Tigers to allow them to leave. It has offered safe passage to the civilians, but President Mahinda Rajapaksa has ruled out a ceasefire as his forces continue to attack dwindling rebel territory.

Rebel political chief B Nadesan told the BBC that Tamils "do not wish to end up in the hands of their killers. "They believe their security lies in the area under the control of our organisation - and regard the area under our control as their safe haven," he said. Health officials and human rights groups say hundreds of civilians have died.

'Caught in crossfire'

Unicef said the safety of children - some just months old - and the wider civilian population was of paramount importance. "We have clear evidence that children are being caught in the crossfire, and that children are being injured and killed," Unicef Regional Director for South Asia, Daniel Toole, said. "It is crucial that safe areas, schools and medical facilities are protected and considered zones of peace, in all circumstances. "Children are bearing the brunt of a conflict which is not theirs. We are gravely concerned for the tens of thousands of children who are trapped in a fast shrinking area of intense conflict."

But Sri Lanka's defence secretary, Gotabaya Rajapakse, said the numbers were exaggerated and aid agencies were panicking. Meanwhile, the UK has announced it is doubling its emergency humanitarian aid to try to protect civilians.

'Rights breaches'

President Rajapaksa said that the rebels were refusing to let the civilians leave. "I urge the [Tamil Tigers], within the next 48 hours to allow free movement of civilians to ensure their safety and security. For all those civilians, I assure a safe passage to a secure environment," he said in a statement on Thursday. The European Union on Friday called for a halt to the conflict.

EU Humanitarian Aid Commissioner Louis Michel said: "This is an escalating humanitarian catastrophe. We are extremely worried about the terrible situation facing people trapped in the fighting." But the Sri Lankan government has said it will continue "to liberate areas which have not been liberated so far". Our correspondent says that displaced civilians who do manage to leave the war zone are held in government-managed camps to which there is no media access.

The UN High Commissioner for Human Rights, Navi Pillay, has also said she is extremely concerned about the well-being of people caught up in the fighting. She said the situation could be worse than generally realised because of the restrictions on access to the war zone. Ms Pillay said there appeared to be "very grave breaches of human rights by both sides in the conflict and it is imperative that we find out more about what exactly has been going on".

On Friday, the Reporters without Borders group also appealed to President Rajapaksa to allow local and foreign journalists to report freely. The Red Cross says the humanitarian situation in the north-east "remains precarious for thousands". "Stocks have been depleted and sustainable ways of producing food locally have become almost nonexistent," it said.

The UK has said it is doubling its emergency humanitarian aid with another £2.5m to support Red Cross operations and help maintain relief convoys.

Heavy fighting

On Thursday, aid agencies said they had evacuated hundreds of wounded civilians, including 50 critically ill children, to a hospital in the town of Vavuniya. The military says it is involved in a final push against the retreating rebels.It has captured the key towns of Kilinochchi, Mullaitivu and the strategically important Elephant Pass in recent weeks. The BBC's Ethirajan Anbarasan is at Elephant Pass with the army. He says he can hear artillery fire 15km (nine miles) to the south and has been told there is heavy fighting there.

Yogyakarta Transgender Reality

09.25 Posted In , Edit This 0 Comments »
  • Religious quandary
Many waria are Muslim, but there aren't many mosques or prayer schools where they feel comfortable praying as women. And so they attend a Koran school specially set up for waria.

Maryani, pictured, is the school's founder. She's transgender herself, and said she wanted a place where people like her could gather and pray freely. "Our immediate neighbours have been very accepting but there are those in the wider Muslim community here who think we're sinful."

  • Mixed feelings
But at more traditional Koran schools, feelings about waria range from acceptance to outright rejection.

At this nearby school, boys and girls are strictly segregated - the way it should be, the imam tells me.

"In Islam, there are separate rules for men and women, so they can't be mixed. There are only two gender identities in Islam – men and women – that's non-negotiable." The special classes for waria are a good thing, he says, only if they force them to comply with Islamic teaching and return to their original gender.

  • Stigma
For some of the worshippers at the waria school, the night will end here – with prayers and Koran-reading late into the night. Others will leave in the early hours to start work in Yogyakarta's red light district.

Jobs aren't easy to come by in Indonesia if you are living as a woman in a man's body. The school may have made it easier for the waria to learn about Islam’s teachings, but outside the stigma makes it much harder to live by them.

Text/Images: Lucy Williamson (BBC-Indonesia)

Researchers Replicate Milgram's Famous Obedience Experiment

14.26 Posted In Edit This 0 Comments »
By. About.com 14 January 2009

The January issue of American Psychologist features a new study that replicated Milgram's classic obedience experiment. In Milgram's original experiments conducted during the 1960s, participants were asked to deliver electrical shocks to a "learner" whenever an incorrect answer was given. In reality, the learner was actually a confederate in the experiment who pretended to be shocked.

The purpose of the experiment was to determine how far people were willing to go in order to obey the commands of an authority figure. Milgram found that 65% of participants were willing to deliver the maximum level of shocks despite the fact that the learner seemed to be in serious distress or even unconscious.

Recently, Jerry Burger, a psychology professor at Santa Clara University, replicated Milgram's famous study with some modifications to address the ethical concerns of study. In an article published in the APS Observer, Burger described the relevance of Milgram's study today:

"The haunting black-and-white images of ordinary citizens delivering what appear to be dangerous, if not deadly, electric shocks and the implications of the findings for atrocities like the Holocaust and Abu Ghraib are not easily dismissed. Yet because Milgram’s procedures are clearly out-of-bounds by today’s ethical standards, many questions about the research have gone unanswered. Chief among these is one that inevitably surfaces when I present Milgram’s findings to students: Would people still act that way today?"

Burger made several alterations to Milgram's experiment. First, the maximum shock level was 150-volts as opposed to the original 450-volts. Participants were also carefully screened to eliminate those who might experience negative reactions to the experiment.

The results of the new experiment revealed that participants obeyed at the same rate that they did when Milgram conducted his original study more than 40 years ago.

The January issue of American Psychologist also contains discussion from other psychologists about the comparisons can be made between Milgram's experiment and Burger's study. According to Arthur G. Miller, Ph.D. of Miami University, "...there are simply too many differences between this study and the earlier obedience research to permit conceptually precise and useful comparisons."

However, Alan C. Elms, PhD, of the University of California, Davis points out that while "direct comparisons of absolute levels of obedience cannot be made between the 150-volt maximum of Burger’s research design and Milgram’s 450-volt maximum, Burger’s “obedience lite” procedures can be used to explore further some of the situational variables studied by Milgram as well as to look at additional variables," such as situational and personality differences.

Learn more about the Milgram obedience experiment.

Kampanye LGBT Dalam Dunia Islam di Era Modern

19.29 Posted In , Edit This 0 Comments »

Gerakan liberalisme dalam Islam memasuki tahap baru. Umat Islam dipaksa meyakini kehidupan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Trans-gender (LGBT) sebagai hak yang harus diperjuangkan. Di depan mahasiswa Columbia University di New York, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pernah menyatakan, "Tidak ada komunitas LGBT di Iran." Tapi tak lama setelah pernyataan itu, sebuah film berjudul A Jihad for Love yang menyeru dan mensosialisasikan komunitas LGBT dalam Islam justru berhasil menyabet penghargaan di Festival Film Internasional Toronto, Kanada, akhir 2007 silam. Dalam film dokumenter tersebut, sutradara Parvez Sharma mengumpulkan kesaksian dan kisah nyata kehidupan komunitas LGBT terutama kaum homoseksual (gay dan lesbian) di negara-negara Islam, Iran, Mesir, Arab Saudi, Bangladesh, Pakistan, Afrika Selatan dan yang lainnya. Tak pelak lagi, film berdurasi 81 menit ini menjadi sebuah tamparan keras bagi Presiden di Negeri Mullah ini.

Namun, ada yang lebih penting dari sekedar kekecewaan Ahmadinejad terkait kaum LGBT di negaranya, yaitu kampanye LGBT di dunia Islam. Dari waktu ke waktu, meminjam pernyataan Adian Husaini, gerakan liberalisasi nilai dan ajaran Islam di dunia sudah sampai pada tahap yang menjijikkan. Barat menyebut A Jihad for Love sebagai flm dokumenter pertama di dunia yang berhasil memotret harmonisasi Islam dengan komunitas LGBT. Film yang mengambil latar di 12 negara Muslim dan diterjemahkan ke sembilan bahasa berbeda itu dibuat untuk mereklamasi konsep perjuangan suci menjadi sebuah perjuangan pribadi kaum homoseks untuk diakui. Dalam film yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Arab, Persia, Urdu, India, Perancis dan Turki itu, Sharma menolak dengan tegas asumsi bahwa homoseksualitas adalah sebuah penyimpangan, menjijikkan dan memalukan. Sharma justru ingin menyampaikan perlindungan untuk kaum pecinta sesama jenis dan menempatkannya sebagai kaum yang harus dihargai, dibela serta diterima dalam masyarakat apa adanya.

Film yang dirilis Sharma ini bukannya sepi dari kritik. "Hampir setiap dua pekan saya menerima email yang berisi cacian, mereka mengutuk saya masuk neraka. Ada juga yang menyampaikan secara lembut, meminta saya untuk merilis permohonan maaf selagi ada waktu," ujar Sharma. Penolakan dan demonstrasi menentang pemutaran film berdurasi 81 menit itu terjadi di mana-mana. Di Singapura, Festival Film Internasional 2008 melarang pemutaran film biadab tersebut. "Judul yang ditawarkan film tersebut sangat sensitif, karena mrncoba untuk memotret perjuangan kaum homoseks di berbagai negara untuk mendamaikan antara agama dengan gaya hidup mereka," tandas Ketua Dewan Sensor Film Singapura sebagaimana dilansir The Straits Times. Dalam wawancaranya dengan harian Al-'Arabiyya, Oktober 2007 silam, Sharma mengungkapkan, filmnya ditujukan kepada kaum Muslimin di seluruh dunia. Film tersebut, merupakan alat untuk membuka dialog dan melepaskan tabu homoseksualitas di dunia Arab dan Islam.

Padahal, tak ayal lagi, hadirnya film tersebut memompa semangat kaum LGBT untuk memperjuangkan hak hidup dan mengubah asumsi aib orientasi yang mereka miliki. Kini, setiap gay dan lesbian Muslim begitu gigih memperjuangkan persamaan hak hidup dan menghapus citra buruk homoseks yang selama ini telah mengakar. Jelas, Film besutan Sharma menjadi sebuah ancaman moral dan liberalisasi yang sangat serius. Tak sedikit kalangan yang menyebut film tersebut sebagai film "pesanan". Pasalnya, perjuangan kaum LGBT untuk hidup damai disambut baik dan difasilitasi negara-negara barat. Kanada, misalnya, kini telah memberikan suaka kepada lima warga Iran yang terlibat cinta sesama jenis dan hidup damai di sana. Bahkan tiga di antara mereka kini menjadi aktivis penuntut hak-hak asasi kaum homoseks dan didanai untuk mendirikan kelompok khusus kaum lesbian dan gay Muslim. Eropa boleh dibilang angin segar bagi kaum LGBT yang mencari pengakuan eksistensi. Beberapa negara Eropa seperti Belanda dan Belgia, mengakui bahkan melegalkan pernikahan sesama jenis. Keberhasilan kaum LGBT dalam me-goal-kan agenda mereka tidak terlepas dari kultur liberal yang sudah berurat akar.

Bagaimana dengan negara-negara Arab? Tidak jauh beda dengan Eropa, hanya saja, para aktivis pecinta sesama jenis atau lebih sering memperjuangkan aspirasinya dengan amunisi ekstra. Karena, dunia Arab memiliki kultur Islam yang kental. Namun bukan berarti kampanye dan fenomena LGBT tidak pernah ada di jazirah Arab. Dalam cuplikan A Jihad for Love diceritakan sepasang lesbian, Maha dan Maryam, yang digambarkan sebagai dua pemudi berjilbab panjang dan taat beragama. Jika kita telusuri lebih jauh fenomena LGBT di Timur Tengah rupanya hanyalah fenomena gunung es. Yang menyembul kepermukaan hanyalah bagian kecil. Jauh di bawah permukaan laut, kita akan menemukan fenomena yang jauh lebih menyeramkan. Di Indonesia sendiri, kampanye LGBT digawangi oleh Prof. Dr. Musdah Mulia, guru besar UIN Jakarta. Di harian The Jakarta Post edisi Jumat (28/03), Musdah Mulia menulis bahwa komunitas LGBT dan homoseksualitas adalah alami yang diberikan Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. Menurut Musdah, para sarjana Muslim moderat berpendapat, bahwa tidak ada alasan untuk menolak homoseksual. Dan bahwasanya pengecaman terhadap komunitas LGBT oleh kalangan ulama aurus utama dan kalangan Muslim lainnya hanyalah didasarkan pada penafsiran sempat terhadap ajaran Islam.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Arus Pelangi di Jakarta pada Kamis 27/03 silam, Musdah Mulia mengatakan, "Tidak ada perbedaan antara lesbian dengan non-lesbian. Dalam pandangan Tuhan, manusia dihargai hanya berdasarkan ketaatannya." Sebelumnya, dari Semarang, sekelompok mahasiswa di Fakultas Syariah Islamiyah, IAIN Semarang, menerbitkan buku bertajuk 'Indahnya Kawin Sesama Jenis'. Buku ini secara terang-terangan mendukung, dan mengajak masyarakat untuk mengakui dan mendukung legalisasi perkawinan homoseksual. Bahkan, dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. Pertama, mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara. Kedua, memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya.

Ketiga, melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual. Keempat, menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita. Pendapat yang dicetuskan Musdah Mulia dan para mahasiswa IAIN Semarang menjadi pendapat yang paling aneh yang pernah muncul. Sebelumnya, betapa sekuler dan liberalnya pendapat liberalis dan sekularis, tidak sampai menyerukan homoseksual dan kawin sesama jenis. Selain melalui tulisan, kampanye homoseksual juga disebarkan melalui media audio-visual semisal film. Beberapa waktu lalu, layar bioskop tanah air sempat diwarnai film 'Coklat Stroberi' yang mengangkat cerita pasangan biseksual anak muda, lengkap dengan segala persoalan yang mereka hadapi, terkait dengan identitas diri mereka. Ini belum lagi ditambah dengan sosok-sosok transgender alias waria yang hampir muncul setiap hari di layar televisi. Jika terus dibiarkan, tak mustahil fenomena yang terjadi pada tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong akan meruyak di Indonesia. Seorang TKW pernah menuturkan pengamatannya tentang fenomena ini. Sejumlah tenaga kerja wanita asal Indonesia (TKW) yang bekerja di Hongkong mulai banyak yang menyadari atas "pernikahan" sesama jenis (lesbian).

Tania Roos, salah seorang TKW asal Malang dalam surat elektroniknya kepada ANTARA News di Surabaya, Senin, menjelaskan bahwa perkawinan lesbian mulai marak setahun terakhir dan awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. "Bahkan memasuki acara mereka ada tanda khusus, apakah mereka kalangan sendiri atau orang lain. Saya bisa masuk ke perkawinan mereka dan mendapatkan fotonya karena saya berpura-pura menjadi pasangan lesbian," katanya. Padahal, berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadist, pengharaman Islam terhadap homoseksual tak pernah berubah. Di tambahkan lagi, ijma' para ulama Islam salafuna al shalih menyebut homoseksualitas sebagai hubungan terlarang yang dikenakan hukuman rajam dan cambuk. Hal ini dapat dilihat di kitab-kitab fiqih klasik semisal al-hidaayah syarhul bidaayah, fathul qadiir, al-haawi al-kabiir, al-mughnii dan al-inshaaf. Logika yang dipakai untuk membenarkan LGBT tak lain hanyalah hak asasi manusia dan demokrasi, yang sejatinya adalah representasi dari nafsu syahwat belaka. Tentang hal ini Nabi Muhammad saw memberi peringatan yang sangat keras, "Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.' (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim dan al-Baihaki).

MENGUSUNG LESBI KELILING INDONESIA

SEKULARISME, pluralisme dan liberalisme merupakan virus-virus yang dijajakan agen-agen Barat ke berbagai negara Muslim di dunia. Begitu pula halnya dengan homoseksualitas. Disinyalir, dalam daftar nama pendatang baru juru kampanye virus cinta sesama jenis terdapat nama Irshad Manji. Irshad Manji adalah seorang feminis Muslim berkebangsaan Kanada yang digadang-gadang sedang diorbitkan untuk meramaikan rimba liberalisasi nilai-nilai dan ajaran Islam di negara-negara Muslim. Dia merupakan sosok pemikir nyeleneh yang "komplit". Betapa tidak, selain intens dengan proyek liberalisasi, wanita kelahiran Uganda itu juga secara terbuka mengatakan dirinya lesbian. Dia mengungkapkan, sesaat setelah lulus S-1 dari University British of Colombia, dirinya mengawali karir sebagai penulis, penyiar radio dan meyakini dirinya bukanlah seorang heteroseksual. "Sungguh mengejutkan ternyata saya jatuh cinta dengan wanita," ujar dia tanpa tedeng aling-aling. Selanjutnya, penulis buku 'The Trouble with Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith' itu berkontribusi banyak dalam mengangkat kehidupan kaum LGBT di Kanada. Ditegaskannya, pada 1998, dia dipercaya sebagai produser sekaligus pembawa acara sebuah program QueerTV, sebuah stasiun televisi komersial pertama di dunia yang mengetengahkan kehidupan kaum LGBT.

Pada 16 Oktober 2004 silam, Henry Makow Ph. D menulis sebuah artikel yang menyebut Manji sebagai 'Lesbian Muslim Reformer is a New World Orderly'. Makow menulis, "These days the champions of freedom, diversity, human rights and tolerance wear a deceptive face. One such face belongs to Irshad Manji." Baru-baru ini, melalui Proyek Keberanian Moral (The Moral Courage Project) yang diketuainya, Manji yang juga sahabat dekat penulis Novel Ayat-ayat Setan Salman Rushdie itu menyambangi Indonesia guna melakukan diskusi dengan kalangan akademisi, organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa. Bahkan di Indonesia bukunya telah diterbitkan dengan judul Beriman Tanpa Rasa Takut. Di Yogyakarta, peraih penghargaan 'Feminist for the 21st Century' dari Ms Magazine itu berkesempatan berdiskusi dengan civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), ormas perempuan di Pesantren Krapyak. Tak sedikit kalangan yang curiga dengan kehadirannya ke Indonesia. Kehadirannya menuai kontroversi. Wajar kiranya jika kita bertanya apa motif kedatangannya ke Indonesia, siapa orang yang mendanai proyeknya dan lembaga mana yang mengutusnya?

Sumber: Arsip Dokumentasi Matari Sehati Yogyakarta.

‘Yogyakarta Principles’ a Milestone for Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender Rights

19.02 Posted In , Edit This 0 Comments »

Experts Set Out Global Standards for Sexual Rights and Gender Equality

A groundbreaking set of principles on sexual orientation, gender identity, and international law is a landmark advance in the struggle for basic human rights as well as gender equality, Human Rights Watch and the Center for Women’s Global Leadership. The document, known as the Yogyakarta Principles after the city where it was adopted, was launched at 9-10 December 2008 in Yogyakarta city by a group of 29 international human rights experts. The “Yogyakarta Principles on the Application of International Law in Relation to Issues of Sexual Orientation and Gender Identity” were adopted by a meeting of experts in international law in Yogyakarta, Indonesia, in November 2006. They confirm legal standards for how governments and other actors should end violence, abuse, and discrimination against lesbian, gay, bisexual, and transgender people, and ensure full equality.

The experts launching the principles include a former Ardhanary Institute, non government organization, judges, artist and academics. Indonesian Woman Cualition a secretariat supporting the work of the experts who developed the principles. Ardhanary Institute was a member of the advisory committee to the secretariat. The Yogyakarta Principles were developed in response to well-documented patterns of abuse around the globe. These abuses, perpetrated because of actual or perceived sexual orientation or gender identity, have affected millions.

The principles address:

  • rape and other forms of gender-based violence;

  • extrajudicial executions;

  • torture and other forms of cruel, inhuman, and degrading treatment;

  • medical abuses;

  • repression of free speech and assembly; and

  • discrimination in work, health, education, housing, access to justice, and immigration.
The principles also map out a positive road to full equality for lesbian, gay, bisexual, and transgender people around the world. Each principle is accompanied by detailed recommendations to states on how to end discrimination and abuse.

Sumber: Arsip Berita Matari Sehati Yogyakarta

Matari Facebook

Profil Facebook Matari Sehati Yogyakarta

Matari Search

Custom Search