Matari Welcome

Selamat Datang di Matari sehati Yogyakarta

Caddy Sering Jadi Sasaran Pelecehan Seksual

13.04 Posted In , Edit This 0 Comments »
Sumber : Kompas.com JUMAT, 8 MEI 2009

Siapa bilang pekerjaan caddy atau pemandu permainan golf itu gampang? Apakah hanya bermodalkan fisik yang bagus dan sedikit "centil" bisa mendapatkan uang tips yang besar? Bahkan bisa menikah dengan pengusaha atau pejabat penting. Bagi Nina (nama samaran), seorang ibu rumah tangga yang pernah menggeluti dunia itu selama tiga tahun, jadi caddy itu tidak selalu enak. Tidak semua caddy bisa jadi "istri simpanan" para pemainnya, tidak semua seperti Rani Juliani (22), caddy padang golf Modernland, Tangerang, yang namanya sedang ramai dibicarakan di berita belakangan ini terkait kasus pembunuhan bos PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

"Memang, dari caddy, kita bisa kenal banyak pejabat negara dan pengusaha asing dan dapat tip yang besar. Tapi tidak semua caddy sama kok kelakuannya seperti itu," kata Nina, seorang mantan caddy di salah satu padang golf ternama di selatan Jakarta. Nina menuturkan, dari pengalamannya menjadi caddy, banyak rekan seprofesinya yang memang terlihat dekat dengan pemain, namun itu sudah menjadi rahasia umum dan hal ini juga sudah ada sejak lama.

Berawal dari tuntutan ekonomi keluarga, Nina menjadi caddy di salah satu padang golf ternama di selatan Jakarta. Namun akhirnya, Nina memilih berhenti karena kondisi keuangan keluarganya membaik. Alasan lainnya karena ia merasa tidak nyaman dengan perilaku pemain di lapangan yang sering tidak sopan dan kasar.

Untuk menjadi seorang caddy juga tidak mudah, setelah melamar di padang golf itu, Rina kemudian menjalani serangkaian tes, seperti tes mata dan pengukuran tinggi badan (minimal 160 cm) kemudian ia mengikuti masa pendidikan selama tiga bulan. Selama pelatihan itu, Nina diajarkan untuk membaca karakter lapangan, membaca arah angin yang dapat menentukan arah bola jatuh di tanah, pengenalan dan fungsi masing-masing stik, dan bagaimana cara menyapa para pemain.

Setelah menjalani tiga bulan pelatihan tersebut, barulah ia diikutsertakan turun ke lapangan dengan pendampingan dari seniornya. Baru ia menyadari, pekerjaan seorang caddy tidaklah mudah.

Seorang caddy dituntut untuk bisa menghadapi berbagai perlakuan kasar dari para pemain golf, mulai dari caci maki, dilempar stik golf, hingga merasakan kepalan tangan sang pemain, dan bahkan pelecehan seksual. Nina juga menuturkan pengalaman pahitnya yang sempat merasakan lemparan stik pemukul golf ke arahnya ketika sedang menjadi caddy seorang pengusaha asal Korea Selatan karena kesalahannya menjatuhkan stik golf sang pemain. Tidak hanya itu. Bahkan, rekan seprofesinya pernah merasakan kepalan tangan sang pengusaha yang kesal karena sang caddy salah menuliskan perolehan angka di kartu skor. Tidak cukup dengan perlakuan kasar secara fisik dan verbal, para caddy juga harus siap dengan perlakuan yang melecehkan secara seksual.

Jika dilihat dari latar belakang pemain yang ia pernah pandu, ada perbedaan antara pemain lokal dan pemain asing, seperti Korea Selatan. Perbedaan kebiasaan pemain asal Korea Selatan biasanya lebih banyak melecehkan secara verbal, atau dengan kata-kata saja. Namun, kebalikannya, para pemain lokal yang menurut Nina, "Tangannya yangngomong".

"Biasanya kalau orang Korea yang main paling cuma dengan perkataan, tapi kalau pemain lokal biasa suka "pegang-pegang" karena itu biasanya tips dari pemain lokal suka lebih besar dari pemain asing," kata Nina.

Selain itu, ia juga mengeluhkan perbedaan perlakuan antara caddy favorit dan caddy yang tidak menjadi langganan karena biasanya mereka bisa datang sesuai keinginannya tanpa terikat jadwal kedatangan yang biasanya ditentukan perusahaan minimal delapan kali dalam sebulan.

"Kalau kita yang melakukan itu, langsung ditegur, tapi kalau caddy favorit langganan tidak ada masalah, bahkan pihak pengelola seakan tutup mata," katanya. Dari banyaknya caddy yang memandu para pemain, mereka yang sering menjadi langganan para pemain dikategorikan sebagai caddy favorit. Biasanya para caddy favorit itulah justru yang mampu mempertahankan pemain baik yang sudah menjadi anggota atau tidak agar mereka mau kembali main di lapangan tersebut.

Nina juga sempat mengutarakan, para caddy ini juga mendapatkan semacam keringanan dalam pekerjaannya. Memang, diakuinya dalam profesi seorang caddy, mereka tidak memiliki gaji tetap bulanan. Mereka hanya dibayar berdasarkan berapa kali mereka menemani pelanggan bermain.

Upah menjadi caddy untuk satu kali memandu pemain di lapangan biasanya bekisar antara Rp 28.000 dan Rp 60.000. Namun, itu di luar ’tip’ pelanggannya. Besaran tip itu sendiri berbeda untuk setiap pemain, dengan kisaran antara Rp 150.000 dan Rp 350.000 per orang. Namun, hal itu kembali lagi pada kepuasan pemain atas kinerja sang caddy.

"Terkadang dalam sebuah turnamen golf, seorang caddy bisa dihadiahi sebuah sepeda motor hanya karena ia mampu memandu pemain di lapangan mendapatkan 'hole in one' atau memasukkan bola ke dalam lubang dengan sekali pukulan," katanya. Memiliki gaya hidup mewah dan serba berkecukupan merupakan impian semua orang. Namun, bagi sebagian orang, jalan itu dapat ditempuh dengan berbagai macam "jalan pintas". Menurut Nina, tidak sedikit caddy yang keluar dari pekerjaannya karena menikah dengan pemain langganannya. Bahkan, ada juga yang dimodali untuk membuka usaha butik sendiri.

Kikis Inkonsistensi, Penyakit Mental Masyarakat Zaman Ini

16.12 Posted In , , Edit This 0 Comments »
Sumber: Kompas.com Jumat, 6 Februari 2009

JAMBI, JUMAT — Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin minta masyarakat harus mengikis sifat inkonsistensi yang sering menjadi salah satu penyakit mental masyarakat sehingga hasil kerja yang dicapai juga menjadi kurang baik.

"Penyakit inkonsistensi itu harus kita hilangkan, dan mulai ditanamkan nilai-nilai baik termasuk kejujuran. Jika kejujuran itu sudah terbentuk dan tertanam kuat sejak dini, nilai-nilai itu tidak mudah hilang dengan godaan sesaat," katanya di Jambi, Selasa.

Pernyataan tersebut dikemukakan Zulkifli saat meresmikan Kantin Kejujuran SMA Negeri 2 Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi dan pencanangan 73 Kantin Kejujuran di SMA, SMK, dan SMP se-Kabupaten Tebo, Selasa, didampingi Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi Daniel Tombe, Bupati Tebo Madjid Muaz.

Lebih lanjut, Gubernur menjelaskan, pembentukan kantin-kantin kejujuran antara lain bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran sejak dini, dan menjadi salah satu media untuk bersikap sportif, bertanggung jawab, tidak berbuat curang, dan menghindari perbuatan tidak terpuji.

"Kejujuran ini juga akan membentuk sikap menghormati norma-norma atau tata nilai dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara," ujarnya.

Para murid atau siswa sebagai generasi penerus harus memiliki moral dan intelektual yang baik sebagai calon-calon pemimpin masyarakat, mereka harus memahami norma-norma yang ada, termasuk norma-norma hukum yang berlaku dan seharusnya dijalankan.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi Daniel Tombe mengatakan, pendirian Kantin Kejujuran di sekolah-sekolah dapat membentuk sikap mental yang positif dan kepribadian yang jujur di kalangan pelajar, dan sebagai media yang cukup efektif dalam menumbuhkembangkan rasa tanggung jawabnya sebagai kader atau calon pemimpin bangsa.

"Sifat jujur dan malu berbuat curang akan sangat membantu upaya-upaya meminimalisir perbuatan bersifat koruptif," katanya.

Fears over Sri Lanka war children

09.52 Posted In , , Edit This 0 Comments »
by. BBC_South Asia

A growing number of children have been killed or injured in Sri Lankan fighting over the last 10 days, the UN children's agency (Unicef) says.

It has called on the government and Tamil Tiger rebels to give "absolute priority" to the safety of children and the wider civilian population. The Tamil Tigers say 250,000 civilians in the conflict zone want to stay in rebel-held areas for protection. However the government has appealed to the Tigers to allow them to leave. It has offered safe passage to the civilians, but President Mahinda Rajapaksa has ruled out a ceasefire as his forces continue to attack dwindling rebel territory.

Rebel political chief B Nadesan told the BBC that Tamils "do not wish to end up in the hands of their killers. "They believe their security lies in the area under the control of our organisation - and regard the area under our control as their safe haven," he said. Health officials and human rights groups say hundreds of civilians have died.

'Caught in crossfire'

Unicef said the safety of children - some just months old - and the wider civilian population was of paramount importance. "We have clear evidence that children are being caught in the crossfire, and that children are being injured and killed," Unicef Regional Director for South Asia, Daniel Toole, said. "It is crucial that safe areas, schools and medical facilities are protected and considered zones of peace, in all circumstances. "Children are bearing the brunt of a conflict which is not theirs. We are gravely concerned for the tens of thousands of children who are trapped in a fast shrinking area of intense conflict."

But Sri Lanka's defence secretary, Gotabaya Rajapakse, said the numbers were exaggerated and aid agencies were panicking. Meanwhile, the UK has announced it is doubling its emergency humanitarian aid to try to protect civilians.

'Rights breaches'

President Rajapaksa said that the rebels were refusing to let the civilians leave. "I urge the [Tamil Tigers], within the next 48 hours to allow free movement of civilians to ensure their safety and security. For all those civilians, I assure a safe passage to a secure environment," he said in a statement on Thursday. The European Union on Friday called for a halt to the conflict.

EU Humanitarian Aid Commissioner Louis Michel said: "This is an escalating humanitarian catastrophe. We are extremely worried about the terrible situation facing people trapped in the fighting." But the Sri Lankan government has said it will continue "to liberate areas which have not been liberated so far". Our correspondent says that displaced civilians who do manage to leave the war zone are held in government-managed camps to which there is no media access.

The UN High Commissioner for Human Rights, Navi Pillay, has also said she is extremely concerned about the well-being of people caught up in the fighting. She said the situation could be worse than generally realised because of the restrictions on access to the war zone. Ms Pillay said there appeared to be "very grave breaches of human rights by both sides in the conflict and it is imperative that we find out more about what exactly has been going on".

On Friday, the Reporters without Borders group also appealed to President Rajapaksa to allow local and foreign journalists to report freely. The Red Cross says the humanitarian situation in the north-east "remains precarious for thousands". "Stocks have been depleted and sustainable ways of producing food locally have become almost nonexistent," it said.

The UK has said it is doubling its emergency humanitarian aid with another £2.5m to support Red Cross operations and help maintain relief convoys.

Heavy fighting

On Thursday, aid agencies said they had evacuated hundreds of wounded civilians, including 50 critically ill children, to a hospital in the town of Vavuniya. The military says it is involved in a final push against the retreating rebels.It has captured the key towns of Kilinochchi, Mullaitivu and the strategically important Elephant Pass in recent weeks. The BBC's Ethirajan Anbarasan is at Elephant Pass with the army. He says he can hear artillery fire 15km (nine miles) to the south and has been told there is heavy fighting there.

Yogyakarta Transgender Reality

09.25 Posted In , Edit This 0 Comments »
  • Religious quandary
Many waria are Muslim, but there aren't many mosques or prayer schools where they feel comfortable praying as women. And so they attend a Koran school specially set up for waria.

Maryani, pictured, is the school's founder. She's transgender herself, and said she wanted a place where people like her could gather and pray freely. "Our immediate neighbours have been very accepting but there are those in the wider Muslim community here who think we're sinful."

  • Mixed feelings
But at more traditional Koran schools, feelings about waria range from acceptance to outright rejection.

At this nearby school, boys and girls are strictly segregated - the way it should be, the imam tells me.

"In Islam, there are separate rules for men and women, so they can't be mixed. There are only two gender identities in Islam – men and women – that's non-negotiable." The special classes for waria are a good thing, he says, only if they force them to comply with Islamic teaching and return to their original gender.

  • Stigma
For some of the worshippers at the waria school, the night will end here – with prayers and Koran-reading late into the night. Others will leave in the early hours to start work in Yogyakarta's red light district.

Jobs aren't easy to come by in Indonesia if you are living as a woman in a man's body. The school may have made it easier for the waria to learn about Islam’s teachings, but outside the stigma makes it much harder to live by them.

Text/Images: Lucy Williamson (BBC-Indonesia)

Iklan Layanan

10.37 Posted In , Edit This 0 Comments »



Tips/Cara Mencegah Pemerkosaan/Perkosaan, Dampak Buruk Korban, Serta Tehnik Pemerkosa

22.11 Posted In , Edit This 0 Comments »

Perkosaan adalah suatu tindakan melakukan hubungan seks dengan orang lain dengan cara memaksa demi mendapat kepuasan seksual yang sementara. Para wanita sudah barang tentu sangat resah dengan tindak pemerkosaan yang memang dari sejak jaman nenek moyang dahulu kala sudah ada. Pemerkosa yang umumnya adalah laki-laki / pria tidak hanya mengincar perempuan dewasa saja, namun juga para gadis yang muda termasuk anak di bawah umur yang terkadang menjadi korban.

Pemerkosa homoseksual adalah orang yang mengincar laki laki lain untuk diperkosa, sedangkan pemerkosa pedofilia senang memperkosa anak dibawah umur. Pelaku pemerkosaan tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi bisa dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Para orang tua benar-benar harus memperhatikan dan mengawasi penuh anak-anak mereka baik yang laki-laki maupun yang perempuan agar tidak menjadi korban perkosaan.

Pelaku kejahatan pemerkosaan adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan kontrol nafsu birahi seks yang baik. Bisa jadi karena tidak tahu cara melakukan onani atau kegiatan lain yang dapat meredam gejolah syahwat sehingga dapat meledak sewaktu-waktu dan mengakibatkan orang lain menjadi korban pelampiasan nafsu bejad.

Nafsu sex memang terkadang membuat seseorang menjadi buta dan dapat berbuat tindak kriminal pada orang lain. Setelah terjadi barulah pemerkosa biasanya sadar atas kesalahan yang diperbuat. Tapi pada sebagian pemerkosa, tidak ada rasa penyesalan dan akan tetap mencari korban lainnya untuk disetubuhi.

Beberapa tehnik metode modus kejahatan pemerkosaan versi organisasi.org :
1. Memberi obat bius agar tidak sadarkan diri
2. Memberi ancaman pada korban agar tidak berdaya
3. Melakukan penganiayaan agar tidak sadarkan diri atau tidak berdaya
4. Menghipnotis korban agar mau melakukan apa yang diinginkan pemerkosa
5. Memberi obat perangsang agar korban jadi birahi / bernafsu
6. Dijadikan wanita penghibur / pelacur bayaran
7. Dicekoki minuman keras agar mabuk setengah sadar
8. Diculik lalu digagahi di tempat yang tersembunyi
9. Ditipu akan diberikan sesuatu atau dijanjikan sesuatu, dll

- Perhatian : Cara ini tidak boleh dipraktekan kepada siapa pun juga selama anda hidup di dunia karena hukumannya berat dan dosanya sangat besar, kenikmatan yang didapat pun sangat semu.

Beberapa akibat / efek dampak buruk pada korban pemerkosaan :
1. Menjadi stress hingga mengalami gangguan jiwa
2. Cidera ata luka-luka akibat penganiayaan
3. Kehilangan keperawanan / kesucian
4. Menjadi trauma pada laki-laki dan hubungan seksual
5. Masa depan suram karena dikanal sebagai korban perkosaan
6. Sulit mencari jodoh karena sudah tidak perawan
7. Bisa membalas dendam pada oang lain
8. Hamil di luar nikah yang sangat tidak diinginkan
9. Anak hasil perkosaan bisa dibenci orang tua, kerabat, tetangga, dll
10. Merusak mental seorang anak karena belum waktunya mengenal seks
11. Menjadi pasrah dan terus melakukan hubungan seks pranikah.
12. Merasa kotor dan akhirnya terjun sebagai pekerja sek untuk mendapat uang.
13. Terkena penyakit menular seksual.

Dilihat dari besarnya efek yang dpat ditimbulkan dari pemerkosaan seharusnya seorang pemerkosa diberikan hukuma yang sangat berat dan membuat jera seperti dicambuk, kerja sosial, hukuman seumur hidup, dicap seperti pki, dan lain sebagainya. Namun orang yang melakukan fitnah pun harus diberikan hukuman yang sama beratnya jika berbohong telah diperkosa seperti dalam cerita ayat-ayat cinta karena terkadang fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Untuk mencegah terjadinya perkosaan hukum memang harus tegas dan membuat takut orang yang akan memperkosa orang lain. Di samping itu di sekolah harus diajarkan mengenai pendidikan seksologi yang baik dan sehat agar tidak terjadi kesalahan eksperimen, ketidaktahuan, kekhilafan, kepolosan, ketidakberdayaan dan lain sebagainya.

Terkadang pelaku perkosaan adalah orang dekat yang tidak kita sangka-sangka seperti teman sepermainan, teman satu sekolah, tetangga, paman, sepupu, dan lain sebagainya. Tidak menutup kemungkinan pula seorang wanita dewasa dan remaja mengajak berhubungan seks dengan paksaan pada anak laki-laki dan perempuan. Semua patut diwaspadai namun tetap dalam batasan yang wajar agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang merusak hubungan harmonis antar individu.

Berikut ini adalah cara mencegah dan mengurangi resiko diperkosa :
1. Tidak berdandan dan berpakaian yang mengundang nafsu orang lain
2. Tidak keluyuran di malam hari termasuk tempat clubbing dan hiburan malam.
3. Langsung pulang ke rumah setelah sekolah atau kegiatan lain
4. Tidak melewati jalan sepi dan rawan kejahatan
5. Tinggal di tempat yang lingkungannya aman dan tentram
6. Tidak memberi kesempatan orang yang baru dikenal untuk macam-macam
7. Hindari diajak ke hotel, tempat sepi, rumah kosong, rumah, dll oleh laki-laki maupun wanita
8. Hindari pencari tenaga kerja wanita agar tidak diperdagangkan sebagai pekerja sek
9. Memakai pakaian yang sulit untuk dibuka oleh pemerkosa
10. Membawa senjata ringan seperti semprotan merica, pembius, sengat listrik, dsb
11. Hindari teman yang gaul tapi kelakuan bejat, pilih teman yang standar baik-baik saja
12. Curigai semua orang yang baru dikenal walaupun berwajah baby face
13. Belajar bela diri untuk menjaga diri
14. Tidak tebar pesona sembarangan ke orang lain
15. Selalu kabur diam-diam jika merasa ada sesuatu yang tidak beres
16. Melawan ketika terjadi pelecehan dan minta bantuan orang lain serta lapor ke polisi
17. Tidak makan dan minum sembarangan untuk menghindari pembiusan
18. Waspada semua orang di tempat bilyar, diskotik, karaoke, panti pijat, salon plus, dsb.
19. Memberi pembekalan pada anak agar tidak menjadi target perkosaan
20. Waspadai orang dekat yang memberikan perhatian atau kebaikan lebih.

(dari berbagai sumber)

ARV gratis di Togo‏

20.00 Posted In , , Edit This 0 Comments »

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/16/07555755/togo.bagikan.gratis.obat.hivaids

LOME, MINGGU — Togo akan mulai membagikan dengan cuma-cuma dari 17 November obat anti-retroviral yang akan memperpanjang hidup pasien HIV/AIDS. "Obat anti-retroviral dibagikan oleh jaringan Pasokan Obat Esensial dan Generik Pusat (CAMEG) dengan gratis mulai Senin 17 November di seluruh negara ini," kata pernyataan resmi yang disiarkan di radio pemerintah setempat.

Sekitar 25.000 orang akan memperoleh keuntungan dari langkah itu, kata Augustin Dokla, yang mewakili satu jaringan penderita HIV/AIDS, meningkat dari 8.000 orang yang telah mendapat akses ke obat dari CAMEG tersebut.

Obat anti-retroviral telah dapat dibeli secara pribadi dengan harga antara 3.000 dan 25.000 frank (47,53 dolar) per bulan. Perawatan dengan obat itu dapat menurunkan secara signifikan tingkat virus HIV dalam darah tapi risiko penularan tetap. Sejak 2006, angka infeksi HIV di antara penduduk Togo tetap pada 3,2 persen.

Santri Diperkosa‏

19.58 Posted In , Edit This 0 Comments »
Sumber:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/09091350/santri.diperkosa.sampai.hamil.dua.kali....


MALANG,JUMAT--KH NH (50), pimpinan sebuah Pondok Pesantren (ponpes) yang diadukan telah memerkosa santrinya dijebloskan ke sel Polres Malang. NH dibekuk petugas Buser Polres Malang di sebuah rumah kontrakan di Pare, Kediri, Rabu (19/11) malam.

Dalam kasus ini, NH yang juga pimpinan pondok di Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang ini diduga telah memerkosa dua santrinya yakni Ist (17), Amb (17), keduanya warga Desa Ngawensari, Kecamatan Ringin Anom, Kabupaten Kendal, Jateng.

Bahkan, salah satu santri itu diperkosa sampai hamil dan akhirnya digugurkan setelah diberi pil oleh NH. "Ancaman hukumannya sangat berat karena korban masih di bawah umur,” tegas Aiptu Yuli Suspaningtyas, Kasubnit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mendampingi AKP Radiant SIK, Kasatreskrim Polres Malang, Jumat (21/11).

Menurutnya, tersangka diancam pasal berlapis yakni pasal 46 UU No 23/2004 tentang Penghapusan KDRT jo pasal 81, 82 UU No 23/ 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 285 sub pasal 289 sub pasal 294 KUHP. Untuk pasal 81 dan 82, ancamannya sekitar 15 tahun. “sedang UU No 23 tentang Perlindungan Anak, ancamannya sekitar 23 tahun," tegas Yuli Suspaningtyas,

Kepada penyidik PPA Polres Malang, kedua korban mengaku telah cukup lama jadi budak nafsu pimpinan pondok itu mulai Mei 2006 sampai Desember 2007. Tak kuat melayani nafsu NH, kedua santri itu akhirnya pulang ke rumah.

Bahkan, salah satu korban itu sempat hamil dua kali namun akhirnya keguguran. Ketika hamil pertama, korban mengadu ke kiai, kemudian diberi pil dan akhirnya keguguran. Sedang keguguran kedua akibat jatuh terpeleset di kamar mandi karena pusing memikirkan kehamilannya.

Lapor Diperkosa Malah Dirajam Hingga Tewas‏

19.56 Posted In , Edit This 0 Comments »

Sumber:

http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/01/21160682/melapor.diperkosa.malah.dirajam.hingga.tewas

MOGADISHU,SABTU-Seorang gadis berusia 13 tahun yang mengaku diperkosa tewas dirajam di Somalia. Karena, kelompok milisi Islam malah menuduh gadis bernama Aisha Ibrahim Dhulow tersebut berzina sehingga dijatuhi hukuman mati dengan cara dirajam, yakni dilempari batu hingga tewas.

Lembaga Amnesti Internasional melaporkan puluhan pria melempari Aisha hingga tewas pada 27 Oktober di sebuah lapangan dengan disaksikan 1.000 orang di kota pelabuhan Kismayo, Somalia selatan. Kota Kismayo kini dikuasi kelompok milisi Islam.

Peristiwa tragis itu bermula ketika Aisha melaporkan dirinya diperkosa tiga orang. Namun, gadis malang itu malah dituduh berzina.

Awalnya, media-media lokal Somalia melaporkan Aisha berusia 23 tahun. Tetapi, ayahnya kepada Amnesti Internasional menegaskan bahwa putrinya baru berusia 13 tahun. Sejumlah wartawan Somalia yang pertama kali melaporkan insiden itu melaporkan korban berusia sekitar 23 tahun. Itu bisa dilihat dari penampilan fisik Aisha.

"Anak ini mengalami kematian yang mengerikana atas perintah kelompok oposisi bersenjata yang saat ini menguasai Kismayo," kata David Copeman, pegiat Amnesti Internasional Somalia dalam pernyataannya, Jumat (31/10).

Somalia adalah salah satu negara paling miskin di dunia dan diwarnai kekerasan. Pemerintahan negara dengan penduduk 8 juta orang itu tidak berfungsi sejak penguasa diktator negara itu digulingkan pada 1991. Celakanya para kelompok yang semula menggulingkan pemerintahan terlibat perang saudara.

Seperempat anak-anak Somalia meninggal dunia sebelum usia lima tahun. Hampir semua institusi publik ambruk. Pertempuran terjadi setiap hari dan korban tewas berjatuhan.

Partai Seks di Australia‏

19.52 Posted In , Edit This 0 Comments »
Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/20/15172674/kontroversi.berdirinya..partai.seks.di.australia

SYDNEY, KAMIS — Nama partai ini mungkin dianggap sebagai lelucon, tetapi Partai Seks Australia serius. Partai ini serius tentang berbagai isu tentang seks sesuai slogan mereka.

Partai terbaru di Australia itu serius tentang berbagai isu soal seks, termasuk akan menjegal rancangan undang-undang untuk memblokir 10.000 situs dewasa. Partai itu juga memperjuangkan kurikulum pendidikan seks nasional dan mendorong untuk melegalkan perkawinan sesama jenis.

Partai ini didirikan pada Kamis (20/11) di ajang Sexpo, pameran tahunan seks di Melbourne. Mereka mengklaim telah memiliki 500 anggota dan siap mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum, pekan depan. Para anggotanya sebagian besar dari Asosiasi Industri Dewasa Nasional (Eros). Mereka pun yakin bisa mendulang suara besar dalam pemilu.

"Kami prihatin pemerintahan Australia akan menjadi sebuah negara pengasuh anak dan tentang gaya konservatif dalam berpolitik," kata Ketua Eros Fiona Patten kepada Associated Press melalui telepon.

Patten berharap Perdana Menteri Kevin Rudd, pimpinan Partai Buruh yang beraliran kiri-tengah dan berkuasa setahun lalu, akan lebih progresif.

Patten mengecam rencana pemerintah memblokir puluhan situs dewasa. "Jika mereka ingin memblokir pornografi anak, tidak masalah. Namun, mereka juga akan memblokir beberapa situs dewasa, seperti playboy.com, sebuah situs yang materinya bisa Anda beli di agen atau disewa di toko video dewasa. Ini tentu kemunduran 30 tahun," katanya.

Direktur Umum Kelompok Lobi Kristen Australia Jim Wallace mengecam berdirinya Partai Seks. Mereka menilai, partai itu memiliki pandangan tidak pantas tentang wanita. "Pornografi dan prostitusi sangat merusak wanita dan anak-anak. Ide partai politik ini akan melanggar sensibilitas sebagian besar warga Australia yang meyakini wanita harus dihormati," kata Wallace.

Sebaliknya, Patten yakin Partai Seks Australia menawarkan pandangan baru kepada rakyat Australia. Partai ini memiliki slogan "Kami serius tentang seks". Mereka siap bersaing dalam pemilu Senat dan dewan perwakilan rakyat negara bagian.

Mengapa Teman-teman Sehati saat Remaja Berisiko Tinggi?

19.09 Posted In , , Edit This 1 Comment »

Laki-laki? Perempuan? Itulah yang ada dalam pikiran remaja ketika berada di masa puber. Masa puber adalah dimulainya rasa tertarik secara seksual terhadap lawan jenisnya, namun rasa tertarik tersebut tidak diperlukan bahkan dirasakan bagi beberapa orang. Jika kamu berpikir dapat tertarik kepada orang yang berjenis kelamin sama ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya mungkin tidak terpikir oleh kita adalah penyakit menular seksual (PMS). Remaja gay atau lesbian menghadapi perasaan tidak normal, ditolak oleh masyarakat, tidak cocok dan sebagainya. Sehingga bagaimana melindungi diri dari bahaya tertular penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual yang selalu tidak terpikirkan. Jika remaja gay terus bergelut untuk bisa keluar dari "aturan" keluarga dan teman, kemungkinan untuk tidak berpikir tentang bagaimana membicarakan hubungan seks yang aman. Pertanyaan seperti "Dimana mendapatkan kondom?" "Bagaimana menggunakannya?" "Bagaimana meyakinkan pasangan untuk memakainya juga?" "Mengapa kondom dibutuhkan?" Akan sangat tidak dipikirkan.

Fakta menunjukan sidikit sekali adanya "role models" bagi remaja gay atau lesbian dan pengetahuan yang minim tentang PMS diantara remaja gay. Ini menunjukan bahwa pencegahan PMS dan HIV sepertinya bukan merupakan isu yang penting dikalangan mereka. Pikirlah sejenak, ada estimasi bahwa satu diantara lima laki-laki yang HIV positif tertular pada usia remaja (Centers for Disease Control and Prevention of America, 1995), juga satu diantara empat remaja yang memiliki pengalaman seksual terkena PMS (American Social Health Association, 1999).

sumber: iwannaknow.org

Kaum Gay Lebih Mudah Terstimulasi Foto Seksual

18.37 Posted In , Edit This 0 Comments »

Tiga dekade penelitian terhadap stimulasi seksual pria telah menunjukkan pola orientasi seksual yang jelas. Kaum gay lebih mudah terstimulasi secara seksual terhadap foto pria dan pria heteroseksual terhadap foto perempuan. Dengan kata lain, pola stimulasi seksual pria seakan sudah jelas. Namun penemuan dari penelitian yang dilakukan oleh Northwestern University telah memperluas penelitian terbatas pada seksualitas perempuan dengan adanya penemuan berbeda terkait dengan stimulasi seksual perempuan. Sangat berbeda dengan pria, baik perempuan lesbian dan heteroseksual cenderung terstimulasi secara seksual oleh stimulasi erotik pria dan perempuan, oleh karena itu memiliki pola stimulasi biseksual. “Temuan ini mewakili perbedaan mendasar antara otak pria dan perempuan, dan memiliki implikasi penting untuk memahami perbedaan pengembangan orientasi seksual antara pria dan perempuan”, demikian kata J. Michael Bailey, Profesor Psikologi pada Northwestern dan peneliti senior pada riset “ Perbedaan seks pada spesifisitas stimulasi seksual. Riset ini telah diterbitkan pada journal of Psychological Science. Fokus utama Riset Bailey adalah genetika dan pengaruh lingkungan pada orientasi seksual, dan dia adalah salah satu peneliti kunci pada riset yang sering diacu mengenai adanya pengaruh genetika pada homoseksualitas kaum Adam.

Orientasi Seksual

Seperti pada banyak kajian mengenai seksualitas, riset terhadap pola stimulasi seksual perempuan jauh tertinggal dibanding pada pria, namun riset mutakhir pada subjek tersebut telah memberi petunjuk, bahwa dibandingkan dengan pria, pola stimulasi seksual perempuan ternyata tidak terlalu berhubungan dengan orientasi seksual mereka. Riset dari Northwestern membuktikan bahwa hal ini benar. Peneliti dari Northwestern mengukur stimulasi seksual secara psikologis dan fisiologis pada pria dan perempuan homoseksual dan heteroseksual, selama mereka menonton film erotik. Ada tiga tipe film erotik: Melibatkan hanya pria, melibatkan hanya perempuan, dan melibatkan kedua jenis kelamin. Sama dengan riset sebelumnya, peneliti menemukan bahwa respon pria konsisten dengan orientasi seksual. Sebagai kontras, baik perempuan homoseksual dan heteroseksual menunjukkan pola biseksual secara psikologis dan juga secara stimulasi genital. Faktanya, perempuan heteroseksual mengalami stimulasi seksual dengan menonton stimulasi erotik perempuan, sama halnya dengan menonton stimulasi erotik pria, walaupun mereka lebih suka berhubungan seks dengan pria daripada dengan perempuan.

“Faktanya, mayoritas mutlak perempuan pada masyarakat barat kontemporer hanya berhubungan seks secara eksklusif dengan pria.” kata Meredith Chivers, Kandidat doktor Psikologi klinis pada Northwestern University, Intern psikologi pada Centre for Addiction and Mental Health dan pengarang pertama pada riset. “Namun saya sudah lama mencurigai bahwa seksualitas perempuan sangat berbeda dengan pria, dan riset ini menunjukkan bahwa memang secara saintifik demikian.” Menurut Chivers, Hasil riset ini menunjukkan bahwa seksualitas perempuan cenderung memiliki fleksibilitas lebih tinggi daripada pria dia area lain diluar orientasi seksual. “Jika dikumpulkan bersama, hasil ini menunjukkan bahwa seksualitas perempuan berbeda dengan pria, dan diperlukannya model pengembangan dan organisasi dari seksualitas perempuan secara independen dari model seksualitas pria.” Demikian kata dia.

Alasan Berbeda

Riset ini melibatkan empat pengarang, termasuk Bailey dan tiga mahasiswa pasca sarjana di departemen psikologi Northwester, Chivers, Gerulf Rieger dan Elizabeth Latty. “Sebagian besar perempuan seperti bisa mengalami stimulasi seksual dari kedua jenis keamin. Mengapa mereka memilih satu dari yang lain?”. Tanya Bailey. “Mungkin karena alasan lain dari stimulasi seksual.”

Sejak awal 1960-an kaum homoseksual (pria) dan heteroseksual menunjukkan respon secara spesifik terhadap stimulasi seksual dari pria dan perempuan. Film yang meprovokasi respons seksual terbesar, dan film dari pria berhubungan seksual dengan pria, atau perempuan berhubungan seks dengan perempuan memprovokasi perbedaan terbesar antara pria homoseksual dan heteroseksual. Menonton hubungan seks heteroseksual dapat menarik pada pria homoseksual dan heteroseksual, namun dengan alasan berbeda. Biasanya, pria mengalami stimulasi genital dan psikologis ketika mereka menonton film yang sesuai dengan orientasi seksual mereka, namun tidak demikian jika berbeda orientasi seksual. Pola spesifik pria terhadap stimulasi seksual adalah fakta yang sangat jelas, bahwa stimulasi genital dapat digunakan untuk mengevaluasi preferensi seksual pria. Bahkan pria gay yang menolak homoseksualitas mereka akan lebih terstimulasi secara seksual dengan stimuli pria daripada stimuli perempuan. “Fakta bahwa pola stimulasi seksual perempuan yang tidak bisa diprediksi dari orientasi seksual menunjukkan bahwa pria dan perempuan memiliki pikiran dan otak yang sangat berbeda.” Demikian kata Bailey.

sumber: netsains.com

What is Gender and Who is Transgendered?

21.52 Posted In , Edit This 0 Comments »
by Carl W. Bushong, PhD, LMFT
(http://www.transgendercare.com/guidance/what_is_gender.htm)

When we speak of gender, in a context other than language, it is a recent concept in our culture, both lay and professional. It was not until 1955 that John Money, Ph.D. first used the term "gender" to discuss sexual roles, adding in 1966 the term "gender identity" while conducting his gender research at Johns Hopkins. In 1974, Dr. N.W. Fisk provided our now familiar diagnosis of Gender Dysphoria. Previously, one's sexual role was considered one of two discrete, non-overlapping congenital attributes—male or female determined by one's external genitals. These two mutually exclusive categories allowed for no variation. Of course, we acknowledged the cultural differences in sexual roles, but there still could be only two modes of expression - of being. We then began to see one's gender as a continuum, a blending, analogous to a "gray scale." But, our distribution of gender was still bimodal, that is, most people are lumped at the two ends (see graphic) with only a minority in the middle. The great majority would be either male or female with all that implies.

But, my review of current research and experience with gender dysphoric, gay and traditional clients has led me to see gender not as a bimodal male or female dichotomy but as a matrix—a possible mix of male and female development within the same individual. From research and observation, I have developed a list of five semi-independent attributes of gender, as a map to help you to understand this complex often hotly emotional issue of gender. Consider sexual identity/behavior (gender) springing from five semi-independent attributes:

  • Genetic Gender — Our chromosomal inheritance.

  • Physical Gender — Our primary and secondary sexual characteristics.

  • "Brain Gender" — Functional structure of the brain, along gender lines.

  • "Brain Sex" — Love/sex Patterns, How we relate to others on a social and interpersonal as well as sexual level. "Love Maps."

  • Gender Identity — Our subjective gender, our sexual Self-Map, how we feel ourselves to be: male or female.

It is my contention that it is possible for an individual to view oneself and function as male or female to varying degrees in each of the five sub-categories independent of the others. From a few weeks after conception until two to three years of age, our brains develop gender in at least three independent dimensions which I have called "Brain Gender." [How the brain is wired along gender lines.] "Brain Sex" How we perceive sex, relationships and goals along male or female sets] and Gender Identity [how we perceive ourselves-male or female.] Not only are these three dimensions independent of each other, but of one's Physical Gender as well. That is, a person can have a male body, male Brain Sex and Identity, but have female Brain Gender. [In fact, most writers and artists do.] Such a person would look, act and feel male, but have a female's sensitivity to emotions, words and sensations: Although, they may overcompensate in public and in interpersonal relationships [e.g., Ernest Hemingway]

Like our Genetic and Physical Gender, our Brain Gender, Gender Identity, and Brain Sex, expression usually remains constant from childhood throughout one's life. Since each of these independent attributes is graded, it is easy to see the possible combinations and degrees number in the thousands. With regard to gender, we can be in a category of one—ourselves. Perhaps only individuals who are homogeneously male or female at the highest degree in all five attributes could convincingly describe themselves as only a single gender— the rest of us are a matrix [a mixture]. As for the transgendered, they appear to be uniformly one gender in all three brain dimensions, but of the opposite gender, both physically and genetically.

Genes and Gender

The first sub-category, Genetics, is only beginning to be understood. What mechanism and to what degree does genetic influences effect one's expression of gender? We do know that besides the traditional XX chromosome of a typical female and the XY of a typical male, that there are other combinations such as XXY, XYY, and XO. A XXY combination results in 47 rather the 46 chromosomes. This condition is called Klinefelder's syndrome and occurs in one in every 500 births. Individuals with Klinefelder's are sterile, have enlarged breasts, small testicles and penis, and a eunuch body shape much like the "Pat" character on "Saturday Night Live." They show little interest in sex. Another 47-chromosome occurrence is XYY Syndrome. In this syndrome, the hormonal and physical appearance of the individual are evidenced as a normal male, but behavior is effected. Typically, XYY Syndrome people are bisexual or paraphilic (pedophilia, exhibitionism, voyeurism, etc.), and show very poor impulse control. Where Klinefelder's and XYY Syndrome are examples of an extra chromosome, Turner's syndrome is a case of a missing sex chromosome. These individuals possess 45 chromosomes (written as XO), are unable to develop gonads, and are free of all sexual hormones, except that crossing over from the mother during fetal life. Turner's Syndrome people have external sex organs approximating a female, and their behavior is characterized as hyper-feminine, baby care oriented, and showing very poor spatial and math skills. The Turner's personality, free of all influence from testosterone, tends to be in direct opposition to the typical set of "Tom Boy" traits. But, none of the above conditions describes the transgendered individual. Transgenderism is far more subtle, involving probably only a few genes on a single chromosome.

Physical Gender

To discuss this aspect of gender we need to examine hormonal involvement, in particular testosterone. During fetal life, the amount present, or the absence of testosterone and other androgens determines our sexuality — physically, mentally and emotionally. There are key times or periods during development when the fetus will go towards the male or the female depending on the level of testosterone. These windows of opportunity may be only open for a few days and if the needed level of testosterone is not present, a basic female orientation develops regardless of the testosterone levels before or after this critical period, and the resulting sexual imprint. The first critical period is at conception when the presence of the SRY gene (Sex-Determining Region of the Y chromosome) will determine our physical gender. The SRY gene is normally found on the short arm of the Y chromosome, but can detach making for a XY female (the Y missing its SRY gene) or a XX male (the SRY attaching to the X). The SRY gene causes the fetus to release TDF (Testes Determining Factor) which turns the undifferentiated gonad into testes. Once testes have formed, they release androgens such as testosterone, dehydrocorticosterone, and anti-mullerian hormone.

Before the release of TDF, the developing fetus has two tiny structures, the mullerian and wolffian ducts, and two small-undifferentiated gonads, neither testes nor ovaries. Without the influence of TDF and testosterone, the gonads form into ovaries and the mullerian duct forms into the female internal sex organs, the wolffian duct disappears and the external sexual tissue becomes the labia major, clitoris, labia minor and clitoral hood. With the influence of TDF, the gonads become testicles and the wolffian duct forms the male internal sex organs, the mullerian ducts dissolve and the external tissue develop into the penis, scrotum, penile sheaths and foreskin. In other words, without testosterone all fetuses develop into females. Adam springs from Eve, not Eve from Adam. As the primary sexual differentiation proceeds towards our physical gender, sometimes deviations occur. These anomalies are sometimes called "experiments of nature." One such "experiment" is a condition termed congenital adrenal hyperplasia (CAH) when the female fetus releases a steroid hormone form her adrenal glands which resembles testosterone. The resulting child often has confusing genitals ranging from deformed female genitals to an appearance of male genitals. If the child is raised as male, following any "adjusting" surgery and given male hormones at puberty, the individual develops as a "normal" but sterile male with XX chromosomes. On the other hand, if the infant is surgically corrected to female and given female hormones, there is a 50/50 chance of lesbian or transgender expression. This "correction" is the source of much unhappiness, and most "intersexed" individuals have this condition.

Another revealing "experiment of nature" is Androgen Insensitivity Syndrome. In this case, there is a normal amount of testosterone circulating in a XY chromosome fetus, but each cell of its body is unable to react to it. This is similar to Turner's Syndrome in that neither the mullerian or wolffian ducts (see above) mature and the external genitalia develops into an approximation of normal female genitals, but differs in that TDF stimulates the gonads into becoming functioning testicles in a XY chromosome body. The child is raised as a girl and is seen as a normal female until she fails to menstruate because she has no uterus. If her testes produce enough estrogen (excess testosterone is converted into estrogen), she develops into a completely normal appearing (but lacking a uterus and upper vagina), sterile female with XY chromosomes and internal testicles.

Brain Gender

Dr. Simon LeVay, in his book, "The Sexual Brain," argues that one's brain receptors for hormones may also play a significant role in our gender development. Dr. LeVay writes, "There is much to recommend...that there are intrinsic, genetically determined differences in the brain's hormone receptors. This would provide a mechanism that involves hormone-induced brain differentiation (along gender lines) but does not require there to be differences in the actual levels of hormones, and there is opportunity for selective effects on different brain systems." At all times keep in mind that Physical Gender does not always indicate "Brain Gender," while most physical male and female infants have Brain Gender matching their physical gender, a significant (but unknown) percentage do not. And in transgendered individuals, the Physical and Brain Gender are the opposite, and begin to express themselves at birth. Even a few hours after birth, significant behavioral differences are noted between morphologically "normal" boys and girls. Newborn girls are much more sensitive to touch and sound than their male counterparts. Several day old girls spend about twice as long looking back at an adult face than boys, and even longer if the adult is speaking. A girl can distinguish between the cries of another infant from other extraneous noises long before a boy. Even before they can understand language, girls do better at identifying the emotional context of speech.

Conversely, during the first few weeks of infant life, boys are inattentive to the presence of an adult, whether speaking to the infant or not. However, baby boys tend to show more activity and wakefulness. At the age of several months, girls can usually distinguish between the faces of strangers and people they know—boys usually do not demonstrate this ability. As infants grow into children, the differences seem to intensify and polarize. Girls learn to speak earlier than boys and do a better job of it. Boys want to explore areas, spaces and things, girls like to talk and listen. Boys like vigorous play in a large space where girls like more sedentary games in smaller spaces. Boys like to build, take things apart, explore mechanical aspects of things and are interested in other children only for their "use" (playmates, teammates, allies, etc.). Girls see others more as individuals—and will likely exclude a person because they're "not nice," and will more readily include younger children and remember each other's names. Girls play games involving home, friendship, and emotions. Boys like rough, competitive games full of "'zap, pow' and villainy." Boys will measure success by active interference with other players, preferring games where winning and losing is clearly defined. In contrast, girl play involves taking turns, cooperation and indirect competition. Tag is a typical boy's game, hopscotch is a girl's game.

As we grow into adults, these differences become both more subtle and entrenched.

Female brained individuals are naturally socialized, tend to prefer cooperation, group discussions and compromise, but are rigid rule followers. Male brained individuals need to be forced into a social conscience, see everything as winning or losing, and are very territorial (my idea, my place, my person, etc.). Competitive and keenly aware of their place in the pecking order, males view rules as something to avoid, ignore or use against others. (The legal profession is very male.) Female brained individuals are very aware of emotional states, both in themselves and others, and have a gift for, and need to express themselves in language. These two needs/abilities combine so that there is a great deal of discussion and description of everyday things (food, experiences, involvements and other people) with an emotional context and value judgment. Male brained individuals have great difficulty identifying emotional states of any kind beyond anger, fear and lust, either in themselves or others. Language tends to be restricted and used sparingly, and hardly ever to describe emotional states. But male brains do have superior spatial and non-verbal skills, such as mathematics, map reading, 3-D conceptions, and with increasing intelligence, abstractions.

In fact, for reasons not understood (at least by this writer), gender differences seem to decrease as our IQ points increase. One study indicated that one-third of physical females in graduate school had brains wired more like a typical male brain. Transgendered folk tend to be born with a female brain gender, but shortly after eight years of age begin to forsake it for a makeshift male brain type of response. It is like abandoning a four-lane highway and taking a little dirt road beside it -- and making the best of their choice. Why do such a thing? To fit in. Around eight or nine years of age, the differences between male and female behavior become obvious. In order to fit in, the physical male with a female brain begins to mimic and then perfect (as much as they can) a male response, leaving their natural female self unexpressed or underdeveloped. Some transgendered physical males are very good at this subterfuge and produce a flawless macho male persona. Others are less successful, and some produce a "Swiss cheese" persona where glimpses or whole chunks of their natural female thinking showing through. But, no matter how efficient an individual is in hiding their natural gender from others, they will always be aware (at least at times and to some degree) of it themselves. The non-transgendered would typically be able to live with their female gendered brain (most writers, artists, actors), forming some sort of truce or overcompensation which even they would usually come to accept as being true. But, alas, the transgendered also have a female gendered Brain Sex and Identity.

Brain Sex

There appears to be a male and female pattern of psychosexual behavior. These are modes of behavior -- one male, one female which are laid down, like Brain Gender, in early life and seem to be independent of environment (how, where, and by whom we are raised) and can be independent of both Physical Gender and Brain Gender. Before I delve into what Brain Sex is, let me state what it is not -- it is not sexual orientation. While sexual orientation can be an attribute of Brain Sex, it is not a primary one. More on this later. What is Brain Sex? Brain Sex is the primary hard-wired patterns which dictates how we view and relate to others on a social, interpersonal and sexual level. Although, like Brain Gender, most physical females will have female Brain Sex and physical males, male Brain Sex. But, this is far from absolute, and in the case of transgendered folk, it is the reverse.

A physical male transgendered person will have female Brain Sex as well as female Brain Gender.

When referring to female and male brained individuals in this section, I will be referring to their Brain Sex regardless of the physical or Gender Brained states. Female brained individuals cannot and do not separate how they feel about a person (good, bad, nice, boring, etc.) and how they see them sexually. They must feel positive about a person as an individual in order to sexually desire them. Male brained individuals have a distant disconnect between feelings about a person as an individual and as a sex object. Males can easily, sometimes preferably, have sex with a person they don't know, don't like or even actively dislike. Love and sex are two different worlds for the male brained. These two worlds can come together, and for most this is preferred, but it is not necessary, and for some, not even desired. For female brained individuals, environmental factors are very important when it comes to sexual contact. Such things as lighting (candles, soft lighting), smells, sensual bedding, music and a "romantic" ambiance are important to erotic feelings and fantasies. Males can have sex anywhere, any time, any place with equal gusto. Sex in the bed, car or dark room with a stranger are all equivalent.

While environmental concerns are low on the male totem pole of desires, sensual attitudes come very high. How their partner looks, feels, even smells, is very important. Males prefer their partner young (or with young features), smooth and "sexy." Looks and sensual components are much less important to the female brain, with social status and acceptance given greater weight. The importance given to the senses in males and their disconnect between romantic feeling and sex objects, help explain male interest in pornography and their ability to have sex to orgasm almost indiscriminately (sex dolls) and often counter to the stated attributes of a desired partner (sex in prison). While female brained individuals are highly influenced by what society expects or rejects in regard to their general and erotic behavior; males are often most influenced by what display value and "bragging rights" their behavior and partner possesses. As for sexual orientation, this is an attribute which I feel to be limited to male brained individuals. I know this is heresy and very socially incorrect in some circles. But, allow me to illustrate my point. While male brained persons are capable (at least while young) of having sex with almost anything (animal, vegetable, or mineral), they are from an early age romantically and sexually drawn to a specific physical type, male or female. No matter what their socially influenced sexual activity may be, or for how long, their basic attraction (even if denied) is not acted on, their orientation does not change.

Female brained individuals, on the other hand, appear to be much more fluid and less physically restricted in their choice of sexual partners. Women routinely become romantically attached to each other, but physical expressions remain atypical for most. While periods of lesbian experimentation is not rare among women, for a straight male to become romantically involved with another male in mid-life without previous gay feelings unexpressed is all but unknown. Female brained persons are far more influenced by a person's personality and "niceness" than their body, and being great rule followers, they are highly influenced by what "society" expects of them. This society can be anything from the greater society to their neighborhood, family, friends, religious or social group. If a female brained individual meets an emotionally compatible woman in a socially accepting or nurturing environment, a romance can take place. A male might have sex, but never romance. Because transgendered physical males have female brain sex, they lack a hard-wired sexual orientation. Therefore, while some transgender women retain a "lesbian orientation," the majority, in spite of their behavior, feelings and expectations before transition, develop an attraction to males and desire a "normal" romantic and sexual relationship with a man. They follow the rules first as a physical male later as a physical woman.

Gender Identity

The last of our five attributes, Gender Identity, is the last to be identified, and the least understood and researched. Gender identity is one's subjective sense of one's own sex. Like pain, it is unambiguously felt but one is unable to prove or display it to others. One's subjective gender is just as real and immalleable as one's physical gender but unfortunately not recognized in our culture. When one's Gender Identity does not match their Physical Gender, the individual is termed Gender Dysphoric. Like minority Sexual Orientation, Gender Dysphoria is not pathological, but a natural aberration occurring within the population, like blue eyes. As with minority sexual orientation, the percentage of the population having gender dysphoria is in dispute, with estimates ranging between one in 39,000 individuals up to three percent of the general population. My experience leads me to feel that the higher figure (3%) is closer to the actual prevalence.

Physically male gender dysphoric individuals have been described, either by themselves or by others, as falling into three distinct groups: crossdressers, transgenderists and transsexuals. While these categories are the generally accepted classifications both within the gender community and among helping professionals, during my work with gender folk I have come to the belief that there is only one cause, one conflict, one condition — but there are many reactions and adjustments to it. I have gradually come to the conclusion that one's coming to terms with the conflict between one's knowledge of their true gender and one's need to be "normal" fosters the same conflict in all gender folk. Because a child's greatest desire is to be normal (like everybody else), the great majority of transgendered individuals create an artificial self which meets this goal. They are often so successful at this that they not only fool everyone else but themselves as well — at least part of the time, in some way. Once created, physically male gender folk live in their male role — a 3-D personality with its own goals, likes and dislikes, values, hobbies, etc. Although indistinguishable from the "real thing," it isn't themselves. It is an artificial creation for them to be able to fit in. This is achieved at the expense of denying, locking away, their natural female self. (See Brain Gender and Brain Sex.) Their desire to be "normal" has denied them their natural selves. But, as the nagging reality of the deception becomes harder and harder to suppress, one has to express their true gender somehow, in some way.

For most, dressing is the obvious compromise. If one cannot be female, one can at least express femininity. But the more one expresses one's true self, the desire for more becomes greater. Some individuals continue expressing themselves more and more, others panic and purge only to start again later.

One's gender identity classification (crossdresser, transgenderist, transsexual, etc.) is due to each individual's adjustment to first the conflict between one's natural gender and their need to be "normal," and later to the conflict between one's natural gender and their "male persona." There is no objective "best solution," only a subjective, personal best solution.

After years or decades of living, working and building within their male persona, it is often too "expensive" to give up the life, perks, family, etc., one has built up—in order to go back to basics and have an emotionally 12 year old girl grow up—and live in a once male 40+ year old body. But no one is too old to transition. I have had many people in their 40's and 50's transition very successfully. I have even had some clients in their 60's and 70's. However far one is able to go toward dismantling the male persona and allowing their female subjective gender to develop, one generally seems to have the following three levels of transition:

1. Recognition that one's Brain Gender is different from one's Physical Gender —This first phase comprises the majority of transgendered persons (75 – 95%) and can take the form of seeing one's self as a "woman trapped in a man's body," a need to express one's "feminine side," etc. This stage is mainly concerned with physical/surface changes such as crossdressing, passing, makeup, wigs, etc. In this first part, many gender folk don't even venture from their own home in female attire or restrict their expression to undergarments (bra, panties) in public. They often have a juvenile (before age 15) and later, an adult phase. There is often years or decades between the two phases. This level is filled with confusion, conflict, guilt, panic, and purging. The so called "Primary Transsexual" is an individual who never constructs a male persona and therefore never accepts their male genitals or challenges their female Self Map/subjective gender.

2. Accepting one's True Self— This stage is much more varied than the first, and has less emotional turmoil. This is the stage where one begins to accept their female self in some way and to make lifestyle changes to accommodate this acceptance. One may only accept the need to appear female, still denying their female true self (crossdresser) or begin to accept their true female self, but concentrating on a superficial physical level of change (transsexual, transgendered).

The self-identified crossdresser may begin to bring his significant other into his dressing, begin going to crossdresser meetings and events, or even going out into public. Those individuals more accepting of their true self will start to look for help in physical transitioning, such as hormones, electrolysis, and surgery, as well as wigs, makeup and clothes.

The major insight lacking at this stage is that they are still under the control of the male persona with all of its unnatural fears, drives, expectations, and knowledge. Even their view of their "female self" is his view, not their freed and autonomous female self. They are still trapped in the belief that physical form alone determines gender.

3. Becoming one's True Self — This is the last but unfortunately least experienced part of transitioning. This is the stage when that little girl trapped inside an artificial male persona in order to fit in, breaks free, grows up and has her own life — often with markedly different values, temperament and interests.

It has been my observation that the female self needs little help in growing up and developing if the overpowering weight of the male persona is removed from it. The transgender individual has spent years, decades developing, reinforcing and living in their male role. Dismantling the male persona takes a great deal of time, effort and outside help. But, an individual's sense of happiness and success is directly parallel with the degree they have dismantled their male identity, not on their age, physical size, hormones, surgery, etc.

Pentingnya Tes HIV

19.44 Posted In , Edit This 0 Comments »

Apa yang dimaksud dengan tes HIV ?

Tes HIV adalah suatu tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau belum, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibody HIV di dalam sample darahnya. Hal ini perlu dilakukan setidaknya agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya, terutama menyangkut resiko dari perilakunya selama ini.

Kenapa perlu tes ?

Seperti telah diketahui, penularan HIV dari seseorang yang telah terinfeksi kepada orang lain adalah melalui pertukaran cairan tubuh, yang meliputi darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Karena itu cara perpindahan HIV dari seseorang kepada orang lain juga sangat spesifik, yaitu :

  • melalui transfusi darah atau produk darah
  • transplantasi organ atau jaringan tubuh
  • pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV secara bergantian, misalnya jarum suntik di antara pengguna narkotika
  • pemakaian jarum suntik / alat tajam yang memungkinkan terjadinya luka, secara bergantian tanpa disterilkan, misalnya jarum tato, jarum tindik, peralatan pencet jerawat, dll
  • hubungan seks tidak aman, yang memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (pada seks vaginal) ; atau cairan sperma dengan darah (pada seks anal)-tanpa penghalang (dalam hal ini kondom)
  • dari seorang ibu hamil yang HIV positif, kepda bayi yang dikandungnya, yaitu melalui jalan lahir dan juga dalam proses menyusui dengan air susu ibu

Singkatnya, bila seseorang dalam hidupnya pernah melakukan hal-hal berisiko tinggi seperti disebutkan di atas, maka penting bagi dirinya untuk segera melakukan tes HIV, sehingga bisa lebih menjaga perilaku selanjutnya demi kesehatan dirinya sendiri dan pasangannya, serta (calon) anak-anaknya kelak.

Apa gunanya ?

Sebenarnya, semakin cepat kita mengetahui status HIV kita, semakin banyak hal positif yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Banyak orang yang selama ini tidak menyadari resiko perilakunya terhadap kemungkinan tertular atau pun menularkan HIV, dan karena tidak segera menjalani tes HIV perilakunya tetap saja berisiko tinggi. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, pasangan maupun (calon) anak-anak. Secara umum tes HIV juga berguna untuk mengetahui perkembangan kasus HIV/AIDS serta untuk meyakinkan bahwa darah untuk transfusi dan organ untuk transplantasi tidak terinfeksi HIV.

Bagaimana prosedurnya ?

Tes HIV harus bersifat :

sukarela :
artinya bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan / tekanan orang lain. Ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk dites setelah mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari testing, serta apa saja impilkasi dari hasil positif atau pun hasil negatif.

rahasia : artinya, apa pun hasil tes ini nantinya (baik positif maupun negatif) hasilnya hanya boleh di beritahu langsung kepada orang yang bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan kepada siapa pun, baik orang tua, pasangan, atasan atau siapapun. Di samping itu hasil tes HIV juga harus dijamin kerahasiaannya oleh pihak yang melakukan tes itu (dokter, rumah sakit, atau labratorium) dan tidak boleh disebarluaskan.

Mengingat begitu pentingnya untuk memperhatikan Hak Asasi Manusia di dalam masalah tes HIV ini, maka untuk orang yang akan melakukan tes harus disediakan jasa konseling, yaitu :

konseling pre-test : yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani tes itu diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui risiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil tes. Konseling pra-tes juga bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila hasilnya nanti positif.

konseling post-test : yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif mau pun negatif. Konseling post-test sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengethui cara menghidnari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Bagi merek yang hasilnya HIV negatif, konseling post-test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang.

Perlu diperhatikan bahwa proses konseling, testing dan hasil tes harus dirahasiakan.


Khusus tentang aspek kerahasiaan ini perlu diperhatikan bahwa masalah kerahasiaan biasanya disikapi dengan cara yang berbeda di setiap tempat. Di beberapa komunitas, kerahasiaan diartikan sebagai jangan pernah memberi tahu siapa pun tentang status HIV Anda, tetapi kerahasiaan seperti ini berbeda dengan confidentiality.

Secrecy dapat meningkatkan kesan bahwa HIVadalah hal yang tabu dibicarakan. Adalah penting diingat untuk tidak mendiskusikan status HIV seseorang tanpa ijin mereka, tetapi penekanan yang berlebihan pada kerahasiaan individu dapat menyebabkan kesulitan bagi orang tersebut untuk mendapatkan dukungan yang tepat. Hal ini perlu dipecahkan melalui beberapa cara, misalnya memberi informasi tentang HIV secara lebih baik kepada masyarakat, menganjurkan orang untuk berbagi tentang hasuk tesnya dengan orang yang mereka percaya, menganjurkan keterbukaan tentang sebab kematian, dan pada saat yang bersamaan menghormati hak asasi orang dengan HIV dan mencegah stigma dam diskriminasi. Jika seseorang tidak memberi tahu orang lain bahwa ia memiliki HIV, mereka bisa lebih cemas dan terisolasi. Dukungan sosial bisa membantu dalam menjaga agar orang tetap sehat dan bisa menurunkan tingkat stresnya, dan bisa dilakukan oleh keluarga dan lingkungan.

Untuk alasan-alasan tersebut, program-program di beberapa negara Asia dan Afrika menawarkan bentuk kerahasian yang lebih sesuai dengan budaya setempat. Hal ini meliputi 'kerahasiaan yang dibagi' yang menggunakan konselor 'awam' (orang yang telah dipercaya, yang telah dilatih dalam hal konseling) daripada konselor professional; konseling dan testing pasangan; serta konseling kelompok dan pendidikan masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap HIV dan AIDS. (Healthlink Worldwide)

Cara kerja tes ?

Jika seseorang terinfeksi oleh suatu virus, maka tubuhnya akan memproduksi antibodi untuk melawan infeksi tersebut. Antibodi ini diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. Antibodi jauh lebih mudah dideteksi dari pada virusnya. Sebagian besar tes antibodi HIV mendeteksi antibodi terhadap HIV dalam sample darah. Jika tidak ada antibodi yang terdeteksi, hasilnya adalah seronegatif atau HIV negatif. Sebaliknya, jika ada antibodi terhadap HIV, berarti hasilnya seropositif atau HIV positif.

Walau pun demikian, suatu tes bisa saja memberi hasil negatif bila orang yang dites baru saja terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena tubuh kita membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mulai menghasilkan antibodi sejak terjadinya infeksi. Antibodi biasanya dapat dideteksi sekitar 3-8 minggu setelah terinfeksi, dan masa ini disebut periode jendela (window period). Dalam masa seperti ini, bisa saja seseorang mendapatkan hasil tes negatif karena antibodinya belum terbentuk sehingga belum dapat dideteksi , tapi ia sudah bis menularkan HIV pada orang lain lewat cara-cara yang sudah disebutkan terdahulu.

Tes darah yang dilakukan biasanya menggunakan tes ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) yang memiliki sensitivitas tinggi - namun spesifikasinya rendah. Bila pada saat tes ELISA hasilnya positif, maka harus dikonfirmasi dengan tes Western Blot, yaitu jenis tes yang mempunyai spesifikasi tinggi namun sensitivitasnya rendah. Karena sifat kedua tes ini berbeda, maka biasanya harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Selain kedua jenis tes tadi, ada juga jenis tes lain yang mampu mendeteksi antigen (bagian dari virus), yaitu NAT (nucleic acid amplification technologies) dan PCR (polymerase chain reaction).

Dimana bisa tes melakukan tes HIV ?

Hingga saat ini belum semua rumah sakit menyediakan fasilitas untuk tes HIV ini. Biasanya di setiap rumah sakit besar propinsi bisa membantu untuk ini.

Beberapa alamat yang bisa dihubungi

Jakarta :
Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI-RSCM (Pokdisus)
tel. 021 - 390 5250 atau 390 3838

Yayasan Pelita Ilmu
tel. 021-835 4691 atau 831 1577

Yogyakarta :
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI DIY)
tel. 0274 - 586 767

Sumber: Pusat Studi Seksualitas, PKBI-DIY

Awas, darah beku bisa serang penderita HIV

19.03 Posted In , , , Edit This 0 Comments »

Selama ini, jika penderita HIV mengalami nafas pendek dan tanda-tanda penyakit paru lainnya, maka dokter akan menganggap penderita itu mungkin mengalami infeksi paru. Padahal belum tentu! Karena ada kemungkinan pasien itu menderita pembekuan darah fatal. Orang yang menderita HIV, paling tidak usianya kurang dari 50 tahun, mungkin akan meningkat risikonya menderita pembekuan darah yang fatal yang disebut venus trombosis. Meskipun lingkup masalah ini perlu dipelajari lebih lanjut, tetapi penelitian ini meletakkan risiko dari pembekuan darah dalam ini sebagai bagian dari pemantauan para dokter yang merawat penderita HIV. Menurut Dr R. Smith dari RS Long Island College di Brooklyn, New York, ini merupakan suatu yang benar-benar baru berkaitan dengan HIV. Sebelumnya kita tidak melihat masalah seperti ini pada awal terjadinya epidemik.

Beberapa tahun lalu, jika penderita HIV mengalami nafas pendek dan tanda-tanda penyakit paru lainnya, maka dokter akan menganggapnya penderita itu mungkin mengalami infeksi paru pneumocitis carini atau infeksi lainnya yang biasanya muncul pada penderita HIV. Mungkin saja hal itu benar. Tetapi setelah ada hasil penelitian ini, maka diharapkan para dokter mempertimbangkan adanya embolisme pulmonary, suatu kondisi fatal pembekuan darah di paru, sebagai sumber dari gejala-gejala pernafasan ini. Venus trombombolism terjadi ketika pembekuan darah atau penghambatan darah terbentuk di pembuluh darah bagian dalam dari kaki. Jika gumpalan darah itu pecah dan mengalir ke paru, maka mungkin bisa menghambat arteri dalam paru yang menyebabkan embolisme pulmonari. Dari beberapa kasus yang telah diamati, Smith memperkirakan adanya hubungan antara HIV dan meningkatnya risiko venus trombombolisme. Untuk menguji hubungan ini, Smith dan rekan-rekannya meneliti kembali catatan kesehatan pasien penderita HIV dan venus thrombombolisme yang terdapat di rumah sakit mereka dari Juli 1998 sampai Juni 1999. Penelitian mereka mencakup catatan kesehatan 362 pasien penderita HIV dan 244 penderita venus trombombolisme.

Dalam bentuk kelompok, penderita HIV tidak terlalu menderita pembekuan darah. Tingkat penderita venus thrombombolism hanya 2,8% diantara para penderita HIV dan 1,8% di kalangan orang yang tidak menderita HIV, yang dalam statistik tidak terlalu berbeda. Tetapi jika analisa ini dibatasi hanya pada orang-orang yang usianya di bawah 50 tahun, maka penderita HIV kemungkinan menderita pembekuan pembuluh darah dalam, kata laporan yang terdapat dalam jurnal AIDS Patient Care and STDs. Bahkan, 22% pasien yang lebih muda dari 50 tahun yang menderita venus trombombolisme juga mengidap HIV. Para peneliti terkejut dengan ditemukannya pasien penderita HIV yang usianya di bawah 50 tahun yang menderita pembekuan pembuluh darah. Karena selama ini penggumpalan darah biasanya banyak terjadi pada pasien yang tua. Dan mereka yang usianya di bawah 50 tahun yang menderita trombosis pembuluh darah dalam kebanyakan adalah wanita. Tetapi di kalangan pasien penderita HIV di bawah 50 tahun, pria lah yang paling mungkin menderita pembekuan darah. Alasan terjadinya peningkatan risiko pembekuan darah di kalangan beberapa orang penderita HIV masih belum jelas. "Kami tidak mengatakan penelitian ini selesai. Tetapi, tetap saja, jika dokter merawat pasien HIV yang menderita gejala pernafasan yang tidak bisa dijelaskan, maka kemungkinan menderita venus trombombolisme harus dipertimbangkan.

sumber: Satumed.com

Korban Kekerasan, Berisiko HIV

18.52 Posted In , , Edit This 0 Comments »

Wanita yang mengalami kekerasan dan terlalu didominasi oleh pasanganya akan memiliki resiko hampir 50 persen terkena penyakit HIV. Dr Rachel Jewkes, dari The Medical Research Council Pretoria menyatakan hal itu setelah melakukan penelitian mengenai faktor terjadinya HIV di Afrika Selatan. Hasil penelitian itu sekaligus menegaskan bahwa para wanita yang mengalami kekerasan dari pasanganya akan memiliki kecendrungan yang kuat untuk terjangkiti virus yang mematikan. "Wanita yang mengalami kekerasan oleh pasanganya prianya akan mengalami kenaikan resiko terkena HIV,'"demikian tegas Dr Rachel Jewkes dari the Medical Research Council Pretoria seperti yang termuat di The Lancet medical journal. Saat ini setengah dari 40 juta orang diseluruh dunia terkena HIV/AIDS dimana tiga juta yang meninggal tahun silam diantaranya adalah wanita. Dr Jewkes dan timnya telah melakukan penelitian dalam bentuk wawancara dengan sekitar 1,366 wanita hamil di Afrika Selatan di empat klinik di Soweto. Kepada mereka ditanyalan mengenai hubungan dengan pasanganya, kebiasaan seksual dan kekerasan yang dialaminya.

Para wanita hamil itu juga dilakukan uji HIV. Hasilnya lebih dari satu dari lima wanita ternjangkiti HIV dikebanyakan wilayah di Afrika Selatan, demikian ujar UNAIDS, sebuah badan PBB yang berperan untuk memerangai HIV/AIDS. Di Afrika Selatan, figure yang mengalami HIV/AIDS mengalami 22-25 persen. Kenyataan itu telah membuat, sara ahli AIDS untuk melakukan ABC (Abtinence, Being faithful dan Condom) untuk menanggulangi HIV menjadi dampak yang terlalu sedikit hasilnya. Menurut Dr Kristin Dunkle dari University of Michigan, yang ikut serta dalam penelitian ini, seharusnya tindakan ABC bisa untuk mengontrol kebiasaan sex yang dilakukan oleh para wanita dan pasanganya.55 persen wanita yang masuk dalam subyek penelitian dilaporakan mengalami kekerasan sex oleh para pasangan prianya. Dan lebiuh dari 30 persen diantaranya mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Malah satu dari lima wanita setidaknya mengalami kekerasan sex lebih sekali dalam satu tahun terakhir.

"Hasil ini membuat para ahli harus memikirkan ulang mengenai konseling HIV dan layanan pencegahan,'" tambah Dunkle. Untuk melakukan upaya yang lebih mumpuni, awal tahun ini UNAIDS dan sejumlah badan lain telah meningkatkan kerjasamanya untuk melakukan pencegahan dan terapi pada para wanita muda dan para gadis mengenai bahanya HIV/AIDS. Di Afrika, setidaknya resiko para gadis muda terkena HIV dua kali lebih besar ketimbang pria.

sumber: JAKNEWS.COM-

Matari Facebook

Profil Facebook Matari Sehati Yogyakarta

Matari Search

Custom Search