Politik Media Dan Seksualitas
23.29 Posted In lgbt , politik , refrensi umum Edit This 0 Comments »Oleh : Dian T Indrawan
(Ketua Program Konseling Matari Sehati dan President Director re-Fresh Production
Didalam pembahasan tentang media dan seksualitas lebih mendalam sebaiknya kita perlu tahu seperti apa fungsi media itu sendiri. Fungsi media adalah sebagai sarana penyampaian segala hal informasi agar audience atau masyarakat memusatkan perhatiannya pada semua kebutuhan akan perubahan. Serta sebagai sarana dalam mendukung perubahan-perubahan dan membangkitkan aspirasi rakyat (De freux, 2004:112). Telah dibahas dengan singkat tentang media dan fungsi media dapat di tarik kesimpulan bahwa media merupakan seperangkat citra, gagasan dan evaluasi yang berupa informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber bagi masyarakat untuk dijadikan suatu acuan. Selain sebagai acuan media itu sendiri dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan mobilisasi. Namun hal lain dalam pembahasan tentang media, pelaku usaha media dituntut untuk dapat menjunjung tinggi nilai-nilai dan pola-pola perilaku tertentu dalam masyarakat.
Pola utama yang di sorot oleh media adalah pola pencitraan dalam citra perempuan dimana media
Dalam adanya perkembangan media yang ada, media berada dalam ruang kontestasi. Dimana ruang tersebut merupakan isi media yang ditulis oleh wartawan media. Tanpa adanya wartawan, media yang seharusnya berisi info-info hanyalah ruang kosong dan bersifat netral. Semua yang terdapat dalam isi media meruapakan sebagai alat perebutan ideologi perusahaan media
Media mainstream juga memiliki potensi dalam meraih polaritas-polaritas media dan selalu menganggap hal suatu adalah “sudah pasti.” Dan kebanyakan wartawan di
Selama ini yang selalu disalahkan adalah orientasi seksual yang dikaitkan dengan perilaku seksual seseorang. Dalam telinga kita belum pernah terdengar judul “Pria Heteroseksual Memutilasi Teman Kencannya Di Hotel Berbintang.” Hal tersebut karena adanya bentukkan dari stereotype
Media massa sendiri menggunakan kelompok non heteroseksual sebagai suatu komoditas yang “menjual”, entah semua itu akan dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari (life style), percintaan, razia petugas (kasus yang biasa terjadi dalam komunitas Waria), kisah hidup bahkan kriminalitas yang akan membuat seseorang terbelalak, kaget ataupun meletakkan komunitas LGBT dalam posisi lebih tinggi. Akan tetapi dalam hal ini komunitas LGBT ini di letakkan dan dianggap dalam posisi social yang lebih rendah dan tersingkirkan. Sekarang ini hanya tergantung dengan komunitas-komunitas dan teman-teman LGBT sendiri, bagaimana cara menghadapi media mainstream itu sendiri.
[1] Hartiningsih, Maria. 2008. Media
[2] Hartiningsih, Maria. 2008. Media

