Matari Welcome

Selamat Datang di Matari sehati Yogyakarta

Politik Media Dan Seksualitas

23.29 Posted In , , Edit This 0 Comments »

Oleh : Dian T Indrawan

(Ketua Program Konseling Matari Sehati dan President Director re-Fresh Production Jakarta)


Dalam perkembangan media massa selama ini telah terbukti sebagai suatu alat yang efektif dalam penyampaian informasi hingga ke pelosok-pelosok. Di pelosok bumi ini televisi dan radio dimanfaatkan sebagai sarana kampanye-kampanye. Seperti kampanye tentang hak-hak asasi reproduksi perempuan, hak-hak asasi manusia, kampanye tentang menghijaukan bumi dan masih banyak lagi kegunaan dari manfaat perkembangan media yang semakin pesat ini. Menurut Maria Hartiningsih dalam makalahnya yang berjudul “Media Massa dan Seksualitas” menyebutkan bahwa media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Komunikasi massa selalu mempunyai dampak pada diri seseorang atau pun sekelompok orang sebagai akibat dari pesan-pesan yang disampaikannya. Tetapi berbeda lagi dengan pendapat dari Marvin De Fleur dalam buku Understanding Media menyatakan bahwa media massa tak hanya memiliki dampak langsung dalam individu, akan tetapi juga akan mempengaruhi kebudayaan serta nilai-nilai dalam masyarakat.

Didalam pembahasan tentang media dan seksualitas lebih mendalam sebaiknya kita perlu tahu seperti apa fungsi media itu sendiri. Fungsi media adalah sebagai sarana penyampaian segala hal informasi agar audience atau masyarakat memusatkan perhatiannya pada semua kebutuhan akan perubahan. Serta sebagai sarana dalam mendukung perubahan-perubahan dan membangkitkan aspirasi rakyat (De freux, 2004:112). Telah dibahas dengan singkat tentang media dan fungsi media dapat di tarik kesimpulan bahwa media merupakan seperangkat citra, gagasan dan evaluasi yang berupa informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber bagi masyarakat untuk dijadikan suatu acuan. Selain sebagai acuan media itu sendiri dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan mobilisasi. Namun hal lain dalam pembahasan tentang media, pelaku usaha media dituntut untuk dapat menjunjung tinggi nilai-nilai dan pola-pola perilaku tertentu dalam masyarakat.


Pola utama yang di sorot oleh media adalah pola pencitraan dalam citra perempuan dimana media massa masih banyak bersifat stereotype. Artinya bahwa perempuan masih di jadikan sebagai media atau obyek seksualitas, perempuan harus selalu dijaga dalam keadaan apapun termasuk kecantikan dari luar, media masih selalu mengeksploitasi perempuan dalam tugas tradisionalnya sebagai ibu rumah tangga yang mencakup kasur, sumur dan dapur. Semua itu diperparang dengan tidak diluruhkan karena telah ada perempuan yang bekerja di area public tapi malah diperkuat lagi. Di dalam kebudayaan patriarki jawa, perempuan juga harus menjaga baik dari fisik maupun ‘unggah-ungguh’ dalam pergaulan dan harus memahami perannya di dapur. Dimana keberadaan perempuan yang selama ini ada? Dari pertanyaan ini dapat dijawab sesuai penjelasan diatas, bahwa perempuan yang sekarang ini ada berada dalam balik baying-bayang laki-laki. Dimana seluruh hak-haknya menempel pada pihak lain. Dengan arti lain, banyak sekali perempuan yang sadar bahwa ketika mereka telah bersuami hak-hak mereka diberikan pada pihak suami termasuk dengan hak-hak reproduksi mereka. Namun dalam keadaan single, hak-hak mereka masih dipegang oleh keluarganya yang memiliki hierarki lebih tinggi.


Dalam adanya perkembangan media yang ada, media berada dalam ruang kontestasi. Dimana ruang tersebut merupakan isi media yang ditulis oleh wartawan media. Tanpa adanya wartawan, media yang seharusnya berisi info-info hanyalah ruang kosong dan bersifat netral. Semua yang terdapat dalam isi media meruapakan sebagai alat perebutan ideologi perusahaan media massa yang terdapat dalam ruang kontestasi tersebut. Hingga saat ini perusahan media mainstream masih mendominasi dalam perkembangan media massa. Ketidakadilan gender merupakan faktor utama dalam perkembangan media massa yang tergolong sebagai media mainstream ini. Selain dari pandangan media masih banyak oraganisasi masyarakat dan oknum-oknum tertentu dengan mengatasnamakan suatu agama tertentu tidak setuju akan adanya gerakkan kesetaraan gender itu. Karena anggapan mereka bahwa perepuan telah pantas diperlakukan seperti itu. Akan tetapi berbeda halnya dengan tindakan sementara yang dilakukan oleh para parlemen dengan menyatakan bahwa 30 % keterwakilan perepuan dalam UU yang beberapa bulan yang lalu disahkan.


Media mainstream juga memiliki potensi dalam meraih polaritas-polaritas media dan selalu menganggap hal suatu adalah “sudah pasti.” Dan kebanyakan wartawan di Indonesia dibentuk dengan cara berfikir seperti itu[1]. Menurut pendapat saya sendiri tentang cara berfikir yang seperti hal diatas menunjukkan jalan pintas dan kemalasan dalam diri wartawan dan perusahaan media massa yang tidak ingin atau bahkan tidak mau melihat realita yang sesungguhnya. Di dalam isi media yang telah dianggap sudah pasti terdapat kandungan ideologi tertentu. Dalam kenyataan yang ada media mainstream juga memiliki potensi dalam tindakan merendahkan suatu kelompok tertentu. Dalam isu seksualitas yang heteronormatif, laki-laki belum banyak sebagai pusat perhatian dibanding perempuan. Fenomena ini terbentuk karena adanya rezim media massa yang heteronormativ itu sendiri. Banyak sekali politik media dalam menyebarkan isu-isu heteronormatif. Masih hangat ditelinga kita bahwa berita yang menyebarkan isu-isu tentang homofobia tersebar luas. Karena berita tersebut di produksi oleh penguasa dan pemangku jabatan dalam suatu perusahaan media massa. Hal itu tersebar ke masyarakat yang direproduksi oleh stereotype baku terhadap kelompok di luar heteroseksual. Contoh judul berita homophobia dalam media mainstream adalah “Pria Homoseksual Memutilasi Teman Kencannya Di Hotel Berbintang.”


Selama ini yang selalu disalahkan adalah orientasi seksual yang dikaitkan dengan perilaku seksual seseorang. Dalam telinga kita belum pernah terdengar judul “Pria Heteroseksual Memutilasi Teman Kencannya Di Hotel Berbintang.” Hal tersebut karena adanya bentukkan dari stereotype baku yang telah membentuk stigma dan juga menstigmasi lain di luar heteroseksual, membuat kategori yang membuahkan prasangka lain lagi hingga akhirnya melemahkan eksistensi lain sebagai manusia[2]. Secara ekstrem banyak pemangku jabatan yang mengeluarkan UU dan Peraturan Daerah yang sangat mendiskriminasikan kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) bahkan menyetujui adanya gerakan anti-gay, anti-lesbian dan mengkriminalkan para transgender di Indonesia.


Media massa sendiri menggunakan kelompok non heteroseksual sebagai suatu komoditas yang “menjual”, entah semua itu akan dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari (life style), percintaan, razia petugas (kasus yang biasa terjadi dalam komunitas Waria), kisah hidup bahkan kriminalitas yang akan membuat seseorang terbelalak, kaget ataupun meletakkan komunitas LGBT dalam posisi lebih tinggi. Akan tetapi dalam hal ini komunitas LGBT ini di letakkan dan dianggap dalam posisi social yang lebih rendah dan tersingkirkan. Sekarang ini hanya tergantung dengan komunitas-komunitas dan teman-teman LGBT sendiri, bagaimana cara menghadapi media mainstream itu sendiri.



[1] Hartiningsih, Maria. 2008. Media Massa dan Seksualitas. Hal 16.

[2] Hartiningsih, Maria. 2008. Media Massa dan Seksualitas. Hal 19.


Deklarasi Yogyakarta Principles untuk Penghapusan Diskriminasi Terhadap LGBT

10.02 Posted In , , Edit This 0 Comments »
Oleh: Dian T Indrawan dan Ari Kusuma Wardana
(Aktifis Matari Sehati Yogyakarta sebagai Ketua Program Konseling dan Ketua Program Pengorganisasian Komunitas Lesbian)

Diskriminasi terhadap sesama manusia yang terus terjadi harus dihapuskan. Dan teman-teman yang oleh masyarakat di golongkan sebagai komunitas minor juga sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses pencegahan dan penghapusan semua tindak diskriminatif tak terkecuali yang dialami oleh Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) baik yang berada di Indonesia maupun di belahan bumi yang lain.

Orientasi seksual yang tergolong pada LGBT ini masih disangkutpautkan dengan perilaku seksual yang menyimpang atau dengan kata lain masih dianggap sebagai sesuatu yang melanggar norma hukum dan masyarakat. Hal ini diperparah lagi dengan disahkannya RUU Pornografi menjadi UU Pornografi yang didalamnya terdapat satu pasal yang sangat diskriminatif sehingga menjadi faktor utama penyebab terhalangnya hak-hak asasi teman-teman sehati (LGBT). Seperti pasal 4 ayat 1 (a) dalam UU Pornografi yang menyatakan bahwa persenggamaan yang menyimpang antara lain; aktivitas seksual dengan mayat, binatang, oral sek, anal sek, lesbian dan homoseksual.

Oleh karena itu, teman-teman yang tergabung dalam beberapa LSM/NGO di Yogyakarta dan Jakarta mengadakan deklarasi Yogyakarta Principles untuk menandai terbukanya suatu tatanan yang mengatur tentang prinsip-prinsip yang terkait dengan keragaman orientasi seksual dan identitas gender LGBT pada tanggal 10 Desember 2008 yang merupakan sebagai rangkaian peringatan 16 hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Acara dalam deklarasi ini adalah diskusi publik yang dihadiri oleh beberapa tokoh HAM, MABES POLRI, seperti yang tidak asing lagi ditelinga kita Dede Utomo. Diskusi publik ini terdiri dari 2 sessi dan kemudian dilanjutkan dengan aksi damai dan penyebaran bunga mawar segar. Acara ini ditutup dengan Art Performance yang menjadi daya tarik sendiri bagi para penonton.

Atas dasar penghormatan atas setiap HAM, maka LGBT pun memiliki kedudukan yang sama dengan setiap individu. Dalam deklarasi ini teman-teman LGBT mendukung kesamaan hak antara LGBT dengan Heteroseksual sebagaimana hak-hak asasi manusia pada umumnya, yakni : hak untuk penikmatan HAM secara universal, hak atas kesetaraan dan non didkriminatif, hak atas pengakuan dimata hukum yang berlaku, hak untuk hidup, hak atas keamanan seseorang, hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dan lain-lain.

(*Buat teman-teman yang masih bingung dengan susunan organisasi di Matari Sehati, maka kami dari Divisi Perkembangan Media dan Pendidikan akan merevisi blog ini setelah kami Re-born Launching*)

Israel buries victims of Mumbai attacks

20.37 Posted In , Edit This 0 Comments »
KFAR CHABAD, Israel -- Thousands of mourners and emissaries from the ultra-Orthodox Jewish Chabad movement poured into an Israeli village Tuesday for the funerals of a rabbi and his wife killed last week in the Mumbai terrorist attacks.

Rabbi Gavriel Holtzberg and his wife Rivka were killed after armed gunmen stormed their house in Mumbai. After the funeral in Kfar Chabad, a village of 900 families just outside Tel Aviv, their bodies will be taken to Jerusalem for burial on the Mount of Olives.

Three former Israeli prime ministers were at the funeral: Ehud Barak, who is now the defense minister; Shimon Peres, currently the Israeli president; and Benjamin Netanyahu, leader of the Likud Party.

The rabbi and his wife lived and worked at Mumbai's Chabad House, which served as both a Jewish center and a home.

The couple had two children, one of whom was in the house when terrorists stormed in. A woman who worked as a nanny and cook at the house managed to escape with the 2-year-old boy, Moshe.

The couple's other son was not in Mumbai at the time, according to Rabbi Yehuda Krinsky, chairman of the educational and social services arms of the Chabad-Lubavitch movement. The child has Tay-Sachs, a terminal genetic disease, The Associated Press reports.

In an emotional scene before flying from India to Israel on Monday, the boy repeatedly cried for his mother at a memorial ceremony at a Mumbai synagogue.

His cries were played repeatedly on Israeli TV stations. "You don't have a mother who will hug you and kiss you," Rabbi Kotlarsky said, adding that the community would take care of the boy, AP said. "You are the child of all of Israel."

The only other surviving member of the family, Moshe's brother, has Tay-Sachs, a terminal genetic disease, and is institutionalized in Israel. The Holtzbergs' eldest son died of the disease.

The Holtzbergs went to Mumbai five years ago to serve the city's small Jewish community and the thousands of Israeli visitors and business people who frequent the area, according to Chabad.org, the ultra-Orthodox group's Web site.

About 5,000 Jews live in India, according to the American-Israeli Cooperative Enterprise. About 3,000 of them live in Mumbai, The Jewish Press reported.

The Holtzbergs operated a synagogue and taught Torah classes. The rabbi also conducted weddings for local Jewish couples.

sumber : http://www.cnn.com/2008/WORLD/asiapcf/12/02/india.attacks.israel.funerals/index.html?eref=rss_topstories

Partai Seks di Australia‏

19.52 Posted In , Edit This 0 Comments »
Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/20/15172674/kontroversi.berdirinya..partai.seks.di.australia

SYDNEY, KAMIS — Nama partai ini mungkin dianggap sebagai lelucon, tetapi Partai Seks Australia serius. Partai ini serius tentang berbagai isu tentang seks sesuai slogan mereka.

Partai terbaru di Australia itu serius tentang berbagai isu soal seks, termasuk akan menjegal rancangan undang-undang untuk memblokir 10.000 situs dewasa. Partai itu juga memperjuangkan kurikulum pendidikan seks nasional dan mendorong untuk melegalkan perkawinan sesama jenis.

Partai ini didirikan pada Kamis (20/11) di ajang Sexpo, pameran tahunan seks di Melbourne. Mereka mengklaim telah memiliki 500 anggota dan siap mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum, pekan depan. Para anggotanya sebagian besar dari Asosiasi Industri Dewasa Nasional (Eros). Mereka pun yakin bisa mendulang suara besar dalam pemilu.

"Kami prihatin pemerintahan Australia akan menjadi sebuah negara pengasuh anak dan tentang gaya konservatif dalam berpolitik," kata Ketua Eros Fiona Patten kepada Associated Press melalui telepon.

Patten berharap Perdana Menteri Kevin Rudd, pimpinan Partai Buruh yang beraliran kiri-tengah dan berkuasa setahun lalu, akan lebih progresif.

Patten mengecam rencana pemerintah memblokir puluhan situs dewasa. "Jika mereka ingin memblokir pornografi anak, tidak masalah. Namun, mereka juga akan memblokir beberapa situs dewasa, seperti playboy.com, sebuah situs yang materinya bisa Anda beli di agen atau disewa di toko video dewasa. Ini tentu kemunduran 30 tahun," katanya.

Direktur Umum Kelompok Lobi Kristen Australia Jim Wallace mengecam berdirinya Partai Seks. Mereka menilai, partai itu memiliki pandangan tidak pantas tentang wanita. "Pornografi dan prostitusi sangat merusak wanita dan anak-anak. Ide partai politik ini akan melanggar sensibilitas sebagian besar warga Australia yang meyakini wanita harus dihormati," kata Wallace.

Sebaliknya, Patten yakin Partai Seks Australia menawarkan pandangan baru kepada rakyat Australia. Partai ini memiliki slogan "Kami serius tentang seks". Mereka siap bersaing dalam pemilu Senat dan dewan perwakilan rakyat negara bagian.

Matari Facebook

Profil Facebook Matari Sehati Yogyakarta

Matari Search

Custom Search