Matari Welcome

Selamat Datang di Matari sehati Yogyakarta

Konsentrasi di Daerah Intim

10.05 Posted In , Edit This 0 Comments »
Sumber: Kompas.com, 31 Januari 2009

Bentuknya yang khas membuat organ paling pribadi milik wanita ini ternyata menjadi "pintu masuk" berbagai penyakit. Rawatlah aset berharga ini agar senantiasa bersih dan sehat.

Gangguan yang Sering Dialami
Gangguan yang paling umum terjadi adalah infeksi akibat jamur, iritasi, atau keputihan. Kondisi vagina yang lembab bisa menimbulkan berbagai keluhan tersebut. Selain itu, perubahan hormonal selama menstruasi, hamil, dan stres juga dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, yang berakibat rentannya kesehatan organ intim.

Perawatan Rutin
1.Usai buang air kecil di toilet umum dan tidak ada shower, basahi tisu dengan air untuk membasuh sisa-sisa urin, lalu keringkan dengan tisu kering tanpa parfum.

2.Tidak dianjurkan menggunakan sabun mandi untuk membersihkan vagina karena akan membuat bakteri yang berguna mati sehingga rentan terhadap masuknya jamur.

3.Sebaiknya gunakan cairan khusus untuk pembersih daerah intim, yang kadar keasamannya sudah disesuaikan dengan keasaman vagina.

4.Lakukan pemijatan di seluruh tubuh dua bulan sekali untuk meredakan ketegangan.

5.Konsultasikan ke dokter kulit dan kelamin jika Anda mempunyai masalah dengan vagina.

Tips
1.Gunakan celana dalam katun yang menyerap keringat agar tidak lembab.
2.Ganti panty liner setiap 2 jam sekali. Pakai panty liner yang tidak mengandung parfum.
3.Mengonsumsi buah dan sayur baik untuk kesehatan seluruh area intim.
4.Hindari stres.
5.Bagi penyuka travelling yang suka menggunakan celana kertas harus waspada. Kertas dapat mendatangkan serbuk dan menimbulkan kelebaban bila sedikit saja terpercik air.

Perlu Mata Pelajaran Khusus Kesrepro dan Narkoba

21.41 Posted In Edit This 0 Comments »
Sumber:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/27/18395393/perlu.mata.pelajaran.khusus.kesrepro.dan.narkoba


JAKARTA,KAMIS - Kurangnya penyuluhan, serta bimbingan langsung ke masyarakat mengenai AIDS makin menambah peluang bertambahnya pengidap AIDS, terutama di kalangan anak muda. Karena itu perlu ada mata pelajaran khusus di sekolah yang bicara mengenai kesehatan reproduksi dan narkotika.

"Sayangnya hingga saat ini belum terlaksana, Meskipun ada, hanya melalui muatan lokal. Itu pun hanya di beberapa sekolah," kata Wakil Ketua Forum Lembaga Sosial Masyarakat AIDS Se-Jabodetabek Imam Mulyadi, di Jakarta, Kamis (27/11).

Jika program ini terlaksana, menurut Imam, secara tidak langsung sekolah telah mengkampanyekan tentang bahaya AIDS. Nantinya, para siswa ini harus mampu menjadi perantara bagi temannya, sekaligus penyuluh dan pemberi solusi. Lewat mereka pula, akan terbentuk jejaring tidak hanya di sekolah, tetapi juga di tengah masyarakat.

Solusi alternatif, lanjut Iman, bisa dilakukan melalui kegiatan ekstra di sekolahnya seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR) dan semacamnya. Setiap anggota diberi pelatihan mengenai AIDS agar dapat menjadi pendidik sebaya (peer educator) disekolahnya.

Penanganan dan pencegahan tidak hanya peringatan yang sifatnya sementara, tetapi aksi yang langsung mesuk ke lapisan masyarakat dan berlanjut terus, anak muda memang paling rentan terinfeksi AIDS. Di masa produktif ini, segala sesuatu ingin dicoba demi mendapatkan pengalaman baru, termasuk dalam menggunakan narkoba dan melakukan seks bebas. Kondisi yang relatif labil di masa ini menyebabkan anak muda mudah tergiur untuk mencoba semua itu.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, hingga Juni 2008 tercatat sebanyak 3123 kasus penderita AIDS. Sebanyak 73 persen atau 2.278 melalui penggunaan jarum suntik saat menggunakan narkoba. Secara keseluruhan, di Indonesia, Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM PL) Departemen Kesehatan, jumlah kasus AIDS sampai Juni 2008 telah mencapai 12.686.

Keputihan? Hindari Gula

21.43 Posted In , Edit This 0 Comments »
Mitos makan nanas akan menyebabkan keputihan membuat buah yang tinggi kandungan vitamin C ini dihindari banyak perempuan. Buah lain yang juga disebut-sebut menyebabkan keputihan adalah mentimun dan pisang ambon, padahal mitos tersebut salah besar.

Keputihan, menurut dr Dwiana Ocviyanti, SpOG, sebagian besar disebabkan karena infeksi jamur (candidas), bakteri, dan parasit. "Keluarnya cairan atau lendir dari vagina dianggap tidak normal atau keputihan bila menimbulkan keluhan, seperti gatal dan berbau," kata dokter Ovi.

Munculnya jamur di organ intim bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya berat badan berlebih, lembab, serta kurang menjaga kebersihan organ reproduksi. "Jamur juga berkaitan erat dengan imunitas. Daya tahan tubuh rendah bisa menyebabkan keluarnya cairan keputihan secara berlebihan," papar dokter yang menjadi staf pengajar di Departemen Obgin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Tentu saja keputihan bisa dicegah. Yang terutama adalah menjaga kebersihan pribadi. Membasuh organ intim dengan cara benar, mengganti pakaian dalam minimal dua kali sehari, serta hindari menggunakan panty liner dalam waktu yang lama.

"Makanan yang mengandung gula tinggi juga sebaiknya dihindari karena bisa melemahkan daya tahan tubuh," ujar Ovi. Pada orang yang gelisah, stres, atau kecapekan, keputihan juga kerap muncul. "Bila daya tahan tubuh rendah, jamur bisa merajalela," katanya.

Mengenai pengobatannya, Ovi menyarankan agar tidak sembarangan mengobati sendiri. "Bila muncul keputihan, lebih baik periksakan ke dokter sebelum telanjur parah. Apalagi jamur tidak bisa sembuh sendiri, harus diobati," ujar Ovi.

Sumber dikutip dari http://www.dechacare.com/Keputihan-Hindari-Gula-I387.html

ODHA Lahirkan Bayi Sehat‏

21.41 Posted In , , Edit This 0 Comments »

Sumber:
http://kompas.com/read/xml/2008/11/23/23195441/penderita.aids.lahirkan.bayi.sehat

JAYAPURA,MINGGU-RSUD Dok II Jayapura saat ini berhasil membantu proses kelahiran delapan orang bayi dengan selamat dari ibu yang positif AIDS.

Dr. Samuel Basso Spd yang merupakan satu anggota tim dokter di rumah sakit itu, Minggu (23/11), mengakui, dari delapan itu empat diantaranya sudah dipastikan negatif.

Sedangkan empat orang bayi lainnya saat ini masih terus dipantau perkembangannya namun belum dapat dipastikan apakah mereka mengindap virus yang menyerang daya tahan tubuh atau tidak.

"Mudah- mudahan saja hasilnya menggembirakan sehingga para bayi itu dapat berkembang dengan normal," harap Dr. Samuel.

Sementara itu Suster Siti Soltief yang dihubungi secara terpisah mengatakan, bayi-bayi itu tidak tertular virus mematikan yang diidap si ibu karena selama masa kehamilan si ibu selalu mengikuti petunjuk yang diberikan dokter maupun paramedis lainnya. Walaupun hamil, si ibu tetap mengonsumsi Anti Retra Virus (ARV).

Para ibu positif AIDS itu, tambah Suster Siti yang juga aktivis pemberantasan HIV/AIDS di Papua, melahirkan dengan cara normal maupun operasi.

"Namun setelah lahir si bayi juga akan diberikan ARV namun dengan dosis yang sesuai usianya," jelas Suster Siti yang sehari hari bertugas diruang penyakit dalam wanita RSUD Dok II Jayapura.

ARV gratis di Togo‏

20.00 Posted In , , Edit This 0 Comments »

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/16/07555755/togo.bagikan.gratis.obat.hivaids

LOME, MINGGU — Togo akan mulai membagikan dengan cuma-cuma dari 17 November obat anti-retroviral yang akan memperpanjang hidup pasien HIV/AIDS. "Obat anti-retroviral dibagikan oleh jaringan Pasokan Obat Esensial dan Generik Pusat (CAMEG) dengan gratis mulai Senin 17 November di seluruh negara ini," kata pernyataan resmi yang disiarkan di radio pemerintah setempat.

Sekitar 25.000 orang akan memperoleh keuntungan dari langkah itu, kata Augustin Dokla, yang mewakili satu jaringan penderita HIV/AIDS, meningkat dari 8.000 orang yang telah mendapat akses ke obat dari CAMEG tersebut.

Obat anti-retroviral telah dapat dibeli secara pribadi dengan harga antara 3.000 dan 25.000 frank (47,53 dolar) per bulan. Perawatan dengan obat itu dapat menurunkan secara signifikan tingkat virus HIV dalam darah tapi risiko penularan tetap. Sejak 2006, angka infeksi HIV di antara penduduk Togo tetap pada 3,2 persen.

Awas, darah beku bisa serang penderita HIV

19.03 Posted In , , , Edit This 0 Comments »

Selama ini, jika penderita HIV mengalami nafas pendek dan tanda-tanda penyakit paru lainnya, maka dokter akan menganggap penderita itu mungkin mengalami infeksi paru. Padahal belum tentu! Karena ada kemungkinan pasien itu menderita pembekuan darah fatal. Orang yang menderita HIV, paling tidak usianya kurang dari 50 tahun, mungkin akan meningkat risikonya menderita pembekuan darah yang fatal yang disebut venus trombosis. Meskipun lingkup masalah ini perlu dipelajari lebih lanjut, tetapi penelitian ini meletakkan risiko dari pembekuan darah dalam ini sebagai bagian dari pemantauan para dokter yang merawat penderita HIV. Menurut Dr R. Smith dari RS Long Island College di Brooklyn, New York, ini merupakan suatu yang benar-benar baru berkaitan dengan HIV. Sebelumnya kita tidak melihat masalah seperti ini pada awal terjadinya epidemik.

Beberapa tahun lalu, jika penderita HIV mengalami nafas pendek dan tanda-tanda penyakit paru lainnya, maka dokter akan menganggapnya penderita itu mungkin mengalami infeksi paru pneumocitis carini atau infeksi lainnya yang biasanya muncul pada penderita HIV. Mungkin saja hal itu benar. Tetapi setelah ada hasil penelitian ini, maka diharapkan para dokter mempertimbangkan adanya embolisme pulmonary, suatu kondisi fatal pembekuan darah di paru, sebagai sumber dari gejala-gejala pernafasan ini. Venus trombombolism terjadi ketika pembekuan darah atau penghambatan darah terbentuk di pembuluh darah bagian dalam dari kaki. Jika gumpalan darah itu pecah dan mengalir ke paru, maka mungkin bisa menghambat arteri dalam paru yang menyebabkan embolisme pulmonari. Dari beberapa kasus yang telah diamati, Smith memperkirakan adanya hubungan antara HIV dan meningkatnya risiko venus trombombolisme. Untuk menguji hubungan ini, Smith dan rekan-rekannya meneliti kembali catatan kesehatan pasien penderita HIV dan venus thrombombolisme yang terdapat di rumah sakit mereka dari Juli 1998 sampai Juni 1999. Penelitian mereka mencakup catatan kesehatan 362 pasien penderita HIV dan 244 penderita venus trombombolisme.

Dalam bentuk kelompok, penderita HIV tidak terlalu menderita pembekuan darah. Tingkat penderita venus thrombombolism hanya 2,8% diantara para penderita HIV dan 1,8% di kalangan orang yang tidak menderita HIV, yang dalam statistik tidak terlalu berbeda. Tetapi jika analisa ini dibatasi hanya pada orang-orang yang usianya di bawah 50 tahun, maka penderita HIV kemungkinan menderita pembekuan pembuluh darah dalam, kata laporan yang terdapat dalam jurnal AIDS Patient Care and STDs. Bahkan, 22% pasien yang lebih muda dari 50 tahun yang menderita venus trombombolisme juga mengidap HIV. Para peneliti terkejut dengan ditemukannya pasien penderita HIV yang usianya di bawah 50 tahun yang menderita pembekuan pembuluh darah. Karena selama ini penggumpalan darah biasanya banyak terjadi pada pasien yang tua. Dan mereka yang usianya di bawah 50 tahun yang menderita trombosis pembuluh darah dalam kebanyakan adalah wanita. Tetapi di kalangan pasien penderita HIV di bawah 50 tahun, pria lah yang paling mungkin menderita pembekuan darah. Alasan terjadinya peningkatan risiko pembekuan darah di kalangan beberapa orang penderita HIV masih belum jelas. "Kami tidak mengatakan penelitian ini selesai. Tetapi, tetap saja, jika dokter merawat pasien HIV yang menderita gejala pernafasan yang tidak bisa dijelaskan, maka kemungkinan menderita venus trombombolisme harus dipertimbangkan.

sumber: Satumed.com

Korban Kekerasan, Berisiko HIV

18.52 Posted In , , Edit This 0 Comments »

Wanita yang mengalami kekerasan dan terlalu didominasi oleh pasanganya akan memiliki resiko hampir 50 persen terkena penyakit HIV. Dr Rachel Jewkes, dari The Medical Research Council Pretoria menyatakan hal itu setelah melakukan penelitian mengenai faktor terjadinya HIV di Afrika Selatan. Hasil penelitian itu sekaligus menegaskan bahwa para wanita yang mengalami kekerasan dari pasanganya akan memiliki kecendrungan yang kuat untuk terjangkiti virus yang mematikan. "Wanita yang mengalami kekerasan oleh pasanganya prianya akan mengalami kenaikan resiko terkena HIV,'"demikian tegas Dr Rachel Jewkes dari the Medical Research Council Pretoria seperti yang termuat di The Lancet medical journal. Saat ini setengah dari 40 juta orang diseluruh dunia terkena HIV/AIDS dimana tiga juta yang meninggal tahun silam diantaranya adalah wanita. Dr Jewkes dan timnya telah melakukan penelitian dalam bentuk wawancara dengan sekitar 1,366 wanita hamil di Afrika Selatan di empat klinik di Soweto. Kepada mereka ditanyalan mengenai hubungan dengan pasanganya, kebiasaan seksual dan kekerasan yang dialaminya.

Para wanita hamil itu juga dilakukan uji HIV. Hasilnya lebih dari satu dari lima wanita ternjangkiti HIV dikebanyakan wilayah di Afrika Selatan, demikian ujar UNAIDS, sebuah badan PBB yang berperan untuk memerangai HIV/AIDS. Di Afrika Selatan, figure yang mengalami HIV/AIDS mengalami 22-25 persen. Kenyataan itu telah membuat, sara ahli AIDS untuk melakukan ABC (Abtinence, Being faithful dan Condom) untuk menanggulangi HIV menjadi dampak yang terlalu sedikit hasilnya. Menurut Dr Kristin Dunkle dari University of Michigan, yang ikut serta dalam penelitian ini, seharusnya tindakan ABC bisa untuk mengontrol kebiasaan sex yang dilakukan oleh para wanita dan pasanganya.55 persen wanita yang masuk dalam subyek penelitian dilaporakan mengalami kekerasan sex oleh para pasangan prianya. Dan lebiuh dari 30 persen diantaranya mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Malah satu dari lima wanita setidaknya mengalami kekerasan sex lebih sekali dalam satu tahun terakhir.

"Hasil ini membuat para ahli harus memikirkan ulang mengenai konseling HIV dan layanan pencegahan,'" tambah Dunkle. Untuk melakukan upaya yang lebih mumpuni, awal tahun ini UNAIDS dan sejumlah badan lain telah meningkatkan kerjasamanya untuk melakukan pencegahan dan terapi pada para wanita muda dan para gadis mengenai bahanya HIV/AIDS. Di Afrika, setidaknya resiko para gadis muda terkena HIV dua kali lebih besar ketimbang pria.

sumber: JAKNEWS.COM-

Cara Nyaman Redakan Gejala Sebelum Menstruasi

17.17 Posted In Edit This 0 Comments »

Gejala sebelum menstruasi, atau yang dikenal secara luas dengan PMS (Pre-Menstrual Syndrome) cenderung dialami sebagian besar perempuan. Kadang-kadang kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas rutin. Cara paling umum yang dilakukan untuk mengatasi PMS adalah dengan mengonsumsi obat pereda rasa sakit yang khusus dibuat untuk mengatasi nyeri haid, dan ada yang menggunakan ramuan tradisional sebagai cara alternatif. Tetapi ada cara lain yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang untuk mengatasi PMS. Cara tersebut adalah memijat.

Kembung, emosi tak terkendali

  • Tempatkan ibu jari pada sebuah titik, di area lipatan salah satu tungkai (belakang lutut). Tepatnya berjarak empat jari yang dirapatkan dari bagian tengah lipatan lutut. Titik tersebut berupa celah antara tulang dan tungkai otot.
  • Setelah ditemukan, tekan area tersebut dengan gerakan memijat yang memutar. Lakukan selama 10 menit tanpa berhenti.

Nyeri perut & pinggang

  • Untuk mengatasi nyeri perut, letakkan salah satu telapak tangan di perut, berjarak kira-kira 5 meter dari pusar. Tekan perlahan dan, tahan hingga 10 hitungan. Kemudian lepaskan.
  • Lakukan hingga 5 kali berturut-turut. Cara ini diketahui dapat mengurangi ketegangan otot perut.
  • Lakukan hal yang sama untuk mengatasi nyeri pada bagian pinggang. Hanya saja dengan kedua telapak tangan masing-masing tepat di lekukan pinggang, menempel pada tulang panggul bagian atas.

Hal terpenting yang harus Anda perhatikan adalah setiap kali pijatan dilakukan, tarik napas dalam-dalam agar otot-otot mendapatkan asupan oksigen yang baik dan menjadi relaks.


Sumber: www.menstruasi.com

Mitos Tentang Siklus Menstruasi yang Beredar di Masyarakat

17.09 Posted In , Edit This 0 Comments »

Siklus menstruasi perempuan sebenarnya adalah suatu proses yang sangat menakjubkan. Sebab, siklus menstruasi inilah yang menentukan masa subur perempuan. Masa subur adalah masa tersedianya sel telur yang siap untuk dibuahi agar terjadi kehamilan. Namun sayang, tidak semua perempuan memahami dengan baik masa suburnya. Bahkan banyak perempuan percaya pada mitos, hingga kehamilan yang diharapkan tak kunjung terjadi.

Mitos apa yang beredar di masyarakat?

Mitos: Siklus menstruasi hanya dapat dipahami oleh ahli kesehatan.

Tidak benar! Setiap perempuan dengan mudah memahami masa suburnya. Caranya adalah dengan mempelajari siklus menstruasi sendiri. Mempelajari kebiasaan menstruasi dan perubahan tubuh setiap bulan sangat membantu untuk mengerti siklus serta diri Anda sendiri.

Mitos: Ketidaksuburan bisa disebabkan oleh stres.

Stres dan kesuburan memang berhubungan. Namun bukan berarti stres secara langsung memengaruhi bahkan menghambat kesuburan. Stres memang dapat memperlambat proses ovulasi karena pengaruh hormonal. Namun jika hubungan seks yang rutin dilakukan pada masa subur tak juga menunjukkan hasil, maka kondisi inilah yang sangat berpotensi menimbulkan stres. Seringkali, usaha yang terlalu keras untuk memiliki anak membuat aktivitas seksual tak menyenangkan dan memicu stres pada pasangan suami-istri.

Mitos: Kesuburan adalah masalah perempuan

Tidak tepat! Sesuai fakta, laki-laki dan perempuan memiliki presentasi yang hampir sama. Sekitar 40% ketidaksuburan terjadi pada perempuan, 40% pada laki-laki dan 20% pada pasangan suami istri.

Mitos: Perempuan tak memiliki sel telur lagi ketika menopause

Perempuan terlahir dengan jumlah telur yang sangat banyak, yaitu 300 hingga 500 sel telur bahkan lebih. Ketika menopause, tubuh perempuan memang berhenti merespon hormon yang menyebabkan ovulasi. Namun sel telur masih akan berada dalam tubuh meskipun sudah tak bisa lagi bereproduksi.

Mitos: Siklus normal menstruasi adalah 28 hari

Patokan 28 hari tak berlaku bagi semua perempuan. Namun, kebanyakan perempuan meyakini bahwa siklus menstruasi yang normal adalah selama 28 hari. Padahal siklus normal menstruasi perempuan berkisar 20 hingga 35 hari. Dan setiap perempuan memiliki siklus menstruasi yang berbeda, pada beberapa perempuan bahkan sangat panjang yaitu mencapai 45 hari.


Mitos: Perempuan subur sepanjang waktu

Tidak tepat! Perempuan tidak subur selama beberapa hari ketika mengalami ovulasi. Faktanya, sel telur berada dalam kondisi sangat baik hanya 12-24 jam setelah dilepaskan dari ovarium. Maka, dalam satu fase perempuan bisa dikatakan sangat subur selama 24 jam (1 hari). Setelah sel telur di buang maka diperlukan sel telur baru untuk di buahi. Sedangkan laki-laki selalu subur sepanjang waktu.

Sumber: www.menstruasi.com

PENGGUNAAN KONDOM TAK LAGI SARAN, TAPI WAJIB

12.26 Posted In , Edit This 0 Comments »

Pemerintah secepatnya perlu menerapkan kebijakan secara nasional seperti dalam bentuk Undang-undang perlunya menggunakan kondom bagi pengguna jasa seksual. "Bagi negara-negara di dunia yang sudah menerapkan kebijakan tersebut, bisa untuk mengantisipasi maraknya penyakit HIV/AIDS," kata Direktur Pelaksana Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Mukhotib di Yogyakarta. Menurutnya, maraknya penyakit HIV/AIDS di dunia secara umum dan di Indonesia khususnya, salah satu penyebab berjangkitnya penyakit HIV/AIDS adalah disebabkan adanya hubungan seksual secara liar antara lain di lokalisasi pekerja seks laki-laki maupun perempuan, dengan pertimbangan tidak terkendali pengawasannya.

Ia memberi contoh, di negara Thailand maupun negara-negara lain di dunia, adanya kebijakan tentang keharusan menggunakan kondom bagi pengguna jasa seksual di lokalisasi sudah terbukti yakni dalam menuangkan kebijakan seperti itu baik dalam bentuk Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah, maka jumlah penderita HIV/AIDS di masing-masing negara kondisinya stabil dan tidak bertambah. Ia mengatakan, kebijakan tentang kewajiban pemakaian kondom tersebut pada hakekatnya seperti halnya telah diberlakukannya kebijakasanaan tentang perlunya tertib lalulintas bagi setiap pengemudi kendaraan maupun warga negara ketika berada di jalur lalu lintas. Bahkan, dengan dilengkapinya suatu kebijakan dalam bentuk pemberian sanksi seperti dikenai denda jika ada yang melanggar, maka peraturan yang mengatur tentang tertib lalu lintas itu akan dipatuhi, sehingga dapat terwujud tertib lalu lintas yang maksimal.

Oleh karena itu, ia berharap, di Indonesia secepatnya bisa menerapkan kebijakan dalam bentuk diciptakannya perundang-undangan yang mengharuskan para pengguna jasa seksual di lokalisasi pekerja seks perempuan maupun laki-laki pihak pasangannya menggunakan kondom, hal ini dapat menekan semaksimal mungkin bertambahnya penyakit HIV/AIDS di Indonesia. Menurut dia, bisa dipastikan sebelum ada upaya dalam bentuk antisipasi pencegahan sejak dini perlunya adanya kebijakan berupa keharusan penggunaan kondom, selain sosialisasi yang bersifat penyuluhan.


Sumber : Pusat Studi Seksualitas, PKBI-DIY

Ingin konseling gratis tentang masalah-masalah yang dihadapi seperti coming out, pacaran, atau masalah seksualitas dan orintasi seksual dapat menghubungi Devisi Konseling Matari Sehati di nomor: 0819-3119-1780(no SMS). Atau kirim email anda dengan subject: “Konseling” yang disertai data diri ke matarisehati@gmail.com

Matari Facebook

Profil Facebook Matari Sehati Yogyakarta

Matari Search

Custom Search